Ijtimak Ulama Membahas Terjemah Juz 21 - Juz 30

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama menyelenggarakan Ijtimak Al-Qur’an selama 3 hari mulai tanggal 8 – 10 Juli 2019 bertempat di el-Hotel Royale Bandung. Forum ijtimak ini dihadiri oleh para ulama Al-Qur’an dari seluruh Indonesia.

Penyelenggaraan ijtimak ulama Al-Qur’an bertujuan menguji kesashihan terjemah Al-Qur’an yang disusun oleh tim terjemah yang dibentuk oleh LPMQ untuk tahun ini dibahas terjemah dari juz 21 sampai juz 30. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Musyawah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al- Qur’an yang diselenggarakan pada tahun 2018 di Bogor, yang membahas hasil revisi terjemah juz 1 sampai dengan juz 20.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin mengkritisi tema yang digunakan dalam acara tersebut. Beliau lebih cenderung meggunakan kata penyesuaian daripada kata penyempurnaan dalam frasa “Terjemah Al-Qur’an Edisi Penyempurnaan”. Alasannya, “penyusunan terjemah Al-Qur’an pendekatanya bukan benar-salah, namun menyesuaikan dengan konteks pada zamannya”, tegas Menag.

Sebagai contoh Al-Qur’an dan Terjemahnya yang disusun dan diterbitkan oleh Departemen Agama pada tahun 1965, maka itulah hasil terjemah Al-Qur’an yang terbaik pada saat itu. “Tentu saja dalam hal ini, ada bahasa yang disesuaikan dengan konteks pada masanya, karena Al-Qur’an bukan hanya sekedar basaha Arab, tetapi juga bahasa Tuhan atau firman Allah” lanjut beliau.

Sehingga apapun hasil yang disepakati, itulah hasil yang terbaik saat ini. Namun, kita juga harus legowo jika sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, hasil terjemah Al-Qu’an ini direvisi oleh generasi yang akan datang.

Terakhir, tentu saya mengapresiai yang setinggi-tingginya atas kerja keras tim selama lebih dari tiga tahun ini dalam menyusun Terjemah Al-Qur’an yang hasilnya akan sangat bermanfaat bagi generasi sekarang. (Farid Zubaidi)

Berita Terkait