Al-Qur'an, Pameran, dan Banjarmasin: Catatan dari Pameran STQ XXI

“Ulun balindung lawan Allah swt dari godaan syetan yang terkutuk
Dengan menyebat ngaran Allah swt yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”

 

Foto Seorang ibu (memegang mushaf) sedang menunjukkan kebolehannya mengartikan Al-Qur'an dalam bahasa BanjarLajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an yang membawahi Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal mengadakan pameran “Mushaf Al-Qur’an di Indonesia dari Masa ke Masa” pada acara Seleksi Tilawatul Qur’an XXI di Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang berlangsung dari tanggal 4-11 Juni 2011. Di antara koleksi yang dipamerkan ada terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Aceh, Mandar, Jawa, Sunda dan Madura. Namun belum ada terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Banjar. Dari ribuan orang yang mendatangi stan Lajnah, kalau masing-masing menerjemahkan satu ayat ke dalam bahasa Banjar, maka Al-Qur'an terjemahan dalam bahasa Banjar akan tercipta dalam satu minggu.

Itulah yang dimanfaatkan teman-teman Lajnah untuk mengadakan kuis: menerjemahkan dan men-sarilitawah-kan Al-Qur'an dalam bahasa Banjar. Hamdan, seorang pengunjung yang sudah mendapatkan hadiah, mengajukan diri untuk tampil menerjemahkan Al-Qur'an dalam bahasa Banjar. Ketika ditegur karena sudah mendapatkan hadiah, ia berujar, “Gak apa-apa, gak usah dikasih hadiah juga gak papa.

Lain Hamdan, lain Bu Khoiriyyah. Pengunjung yang berprofesi sebagai guru ini dengan penuh ekspresi mensaritilawah Surah Ali Imran: 91. Bahkan terharu ketika menerima hadiah yang diberikat oleh Sekretaris Badan Litbang dan Diklat. Maka malam itu menjadi malam bagi para pecinta Al-Qur’an untuk mendemontrasikan kebolehannya dalam menerjemahkan Al-Qur'an dengan bahasa Banjar.

Banjarmasin adalah kota yang religius, dengan 98,5 % penduduknya beragama Islam. Dari daerah ini juga  lahir tokoh terkenal, Syeikh Arsyad al-Banjari yang salah satu karyanya, Mushaf al-Banjary, kini tersimpan di Museum Banjarbaru. Itulah mengapa, ketika pameran Al-Qur’an kuno di Banjarmasin, sebagian pengunjung bertanya, “Mana Al-Qur'an Syeikh al-Banjari?” atau “Bawa Qur’an al-Banjary gak?” Mereka sangat mengapresiasi ketika diberi katalog pameran dan diberitahu bahwa di dalamnya terdapat tulisan mengenai Mushaf al-Banjary.

Antusiasme masyarakat Banjarmasin meramaikan STQ dan mengunjungi pameran Al-Qur'an bisa terlihat dari membludaknya pengunjung. Ini terjadi hampir tiap hari. Pada hari pertama saja, ketika dekorasi stan masih berlangsung, masyarakat sudah berjibun membanjiri stan. Terik matahari di siang hari tidak mengurangi niat mereka untuk berkunjung. Keramaian akan memuncak pada malam hari. Para pengunjung harus berdesak-desakan untuk beringsut dari satu stan ke stan lainnya. Kurang lebih 1000 pengunjung memadati stan pameran Al-Qur'an setiap harinya.

Hal di atas tidak mengherankan karena yang datang ke acara tersebut tidak hanya warga Banjarmasin. Warga dari daerah sekitar seperti Martapura, Barito, Amuntai juga tumpah ruah di acara STQ. Dahlan contohnya, ia sengaja datang dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 4 jam perjalanan dari Banjarmasin, hanya untuk melihat acara STQ sekaligus berakhir pekan. “Banjarmasin kota religius. Penduduk non-muslimnya tidak banyak. Tujuan wisatanya juga menarik,” ujarnya.[ahs]

 

Berita Terkait