Halaqah Qiraat Al-Qur’an

Foto Halaqoh Qiraat Al-Qur'an

Jakarta (15/9/2011) -  Sedikitnya terdapat tujuh cara membaca (qira’at) Al-Qur’an yang disandarkan kepada tujuh orang imam, yaitu Nafi’ (Madinah), Ibn Kasîr (Mekah), Ibn ‘Amir (Syam), Abû ‘Amr (Basrah), ‘Asim, Hamzah, dan al-Kisa'î (ketiganya dari Kufah). Semua qiraah yang disandarkan kepada tujuh orang imam ini disepakati kesahihan dan kemutawatirannya oleh para ulama. Namun, dalam perjalanan sejarah, hanya empat imam saja yang mazhab qiraahnya dipraktekkan oleh kaum mulimin di seluruh dunia, dan dari empat imam itu satu imam yang mendominasi, yakni Imam ‘Asim, dan itu pun hanya terkonsentrasi pada satu perawinya, yakni Imam Hafs bin Sulaiman.

Mengapa demikian? Apa saja faktor di balik itu semua? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang coba dieksplorasi dalam kesempatan halaqah ketiga yang diselenggarakan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Kamis, 15 September 2011. Bertindak sebagai pemakalah pada kesempatan ini adalah Mustopa, M.Si, pegawai di lingkungan Lajnah dengan nara sumber Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, MA, Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ), Jakarta. Kedua pembicara ini menghadirkan alasan-alasan yang terkait dengan pertanyaan mengapa qiraah ‘Asim riwayat Hafs menjadi begitu dominan dalam praktek bacaan kaum Muslimin di dunia, termasuk di Indonesia.

Acara halaqah yang bertempat di Desa Wisata TMII ini diikuti oleh sejumlah peserta dari lingkungan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dan beberapa undangan dari lingkungan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Kegiatan ini diselenggrakan dalam rangka meningkatkan wawasan dan memperkaya pemahaman para peserta halaqah khususnya berkaitan dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an.[mus]

Berita Terkait