Tiga Jenis Perkembangan Salinan Mushaf

Mushaf Al-Qur’an jika dilihat dari sisi perkembangannya dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu manuskrip, cetakan, baik cetak batu maupun offset, serta digital. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pentashihan LPMQ, H. Deni Hudaeny Ahmad Arifin, MA, dalam acara pembinaan pentashihan mushaf Al-Qur’an yang diselenggarakan atas kerja sama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Kemenag RI dengan Ma’had Aly Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi pada 28 Oktober 2019 di Aula Ponpes Attaqwa Putri.

Manuskrip, jelas Deni, memiliki ciri di antaranya belum ada nomor ayat, terdapat ilumninasi pada bagian awal, tengah dan akhir, rasmnya secara umum imlai, ragam hias khas yang mencirikan daerah, terdapat tanda bagian Al-Qur'an seperti juz dan lainnya, media tulis umumnya kertas eropa, sementara kulit kayu biasa digunakan di Jawa dan Lombok, dan tinta tradisional dari tetumbuhan. “Sekarang ini masyarakat dapat mengakses manuskrip Al-Qur’an nusantara secara online di website pangkalan data mushaf Nusantara di http://seamushaf.kemenag.go.id/. Manuskrip, mushaf cetak, digital dan Braille yang ada di Indonesia ada di website ini,” kata Deni.

Website pangkalan data mushaf Nusantara di http://seamushaf.kemenag.go.id/

Mushaf cetak batu, lanjut Deni, mulai berkembang pada pertengahan abad ke-19. Menulis mushaf dengan tangan semakin ditinggalkan seiring lahirnya teknologi tersebut. Cetak batu memudahkan penggandaan mushaf dalam jumlah relatif lebih banyak daripada tulisan tangan. “Pada akhir abad ke-19 adalah masa mushaf cetak modern. Di antara mushaf cetak modern yang masuk ke Indonesia adalah mushaf cetakan India. Mushaf tersebut tersebar di berbagai daerah di Nusantara seperti Palembang, Demak, Madura, Lombok, dan Bima,” sambung Deni.

Gambar mushaf cetakan India.

Ia melanjutkan, pada era modern ini, mushaf cetak mengalami berbagai perkembangan, di antaranya adalah munculnya materi-materi selain teks ayat Al-Qur’an seperti terjemahan, trasliterasi, tajwid sistem warna, terjemahan per kata, tafsir, serta mushaf Braille.

Pada masa sekarang, selain suplemen tambahan pada mushaf cetak begitu banyak, lahir pula berbagai mushaf Al-Qur’an dalam bentuk elektronik maupun digital. “Sekarang ini banyak beredar mushaf yang bisa mengaji. Jika halaman atau ayatnya disentuh dengan pen, akan keluar suara dari qori yang membaca ayat tersebut,” kata Deni.

“Mushaf Digital, baik dalam bentuk aplikasi Android, iOS, website maupun media lainnya juga bagaikan jamur di musim hujan. Keberadaannya sulit dibendung. Pengembang aplikasi dari dalam dan luar negeri berlomba-lomba menghadirkan aplikasi Al-Qur’an digital. Oleh karena itu, LPMQ juga mengembangkan Al-Qur’an digital sesuai Mushaf Standar Indonesia dengan nama "Qur’an Kemenag" baik dalam bentuk Android, website, maupun MS Word,” ungkap Deni. (MZA)

Berita Terkait