Prof. Quraish, "Penjelasan Ilmiah Jangan diposisikan Sebagai Tafsir"

Hadir selaku narasumber pada kegiatan ini Prof. Quraish merasa senang bahwa tim kauni tidak memposisikan penjelasan saintifik sebagai tafsir. Sebab menurut pakar tafsir Indonesia tersebut, selayaknya diposisikan sebagai keterangan pendamping dan penguat dari ayat Al-Qur'an yang sedang dibahas.

"Penjelasan perspektif saintifik bukanlah penafsiran ayat Al-Qur'an. Saya suka, di sidang ini, penjelasan ilmiah (saintifik) diposisikan sebagai pendamping dan penguat kandungan makna ayat Al-Qur'an yang sedang dibahas," jelas pendiri Pusat Studi Al-Qur'an di Bekasi, Rabu (7/11). "Apa yang kita sampaikan dalam tulisan ini sesungguhnya adalah sebatas pemahaman kita terhadap ayat Al-Qur'an. Sebab, jika dikatakan sebagai tafsir itu berarti mewakili Allah dalam menjelaskan ayat-ayat-Nya" jelas Quraish. Komentar itu beliau sampaikan setelah mengikuti uraian penjelasan tentang menopous yang disampaikan oleh Dr. Sony Heru Sumarsono, pakar Ilmu Biologi dari ITB Bandung. Sidang penyusunan buku Tafsir ayat-ayat kauniyah telah memasuki kali ke-3. Pembahasan buku dengan tema "Penciptaan Manusia" ini telah memasuki uraian sub judul fase perkembangan manusia pada tahap menopouse. Merujuk pada Surah at-Thalaq ayat 4. Tim pakar dalam kegiatan ini dibagi menjadi dua kelompok: tim pakar syar'i/mufasir dan tim pakar kauni. Tim pakar syar'i bertugas menjelaskan detail pemaknaan ayat perspektif tafsir. Sedangkan tim kauni menjelaskan keterkaitan kandungan makna ayat dari sudut pandang saintifik. Sebatas kemajuan pengetahuan sains yang telah ditemukan saat ini. Dalam kesempatan itu, Quraish juga mengusulkan agar pembahasan faktor perkembangan kejiwaan manusia juga dimasukkan. Sebab ayat-ayatnya banyak. Seperti, manusia itu Aktsara Syaiin Jadala, Khuliqa haluan dan sebagainya. Tahapan perkembangan itu menurut Quraish bisa diambil dari Surah al-Hadid ayat 20

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ  كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ  ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ (٢٠)

Terjemah :
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

Mengutip pendapat Rasyid Ridha bahwa tahapan peekembangan kejiwaan manusia tergambar jelas pada ayat tersebut. "Laibun adalah masa kanak-kanak. Di masa itu  manusia itu hanya bermain. Kemudian memasuki masa Lahwun atau masa remaja. Di masa itu manusia juga bermain. Namun permainan yang sudah memiliki tujuan. Dan melenakan. Itu lah masa remaja. Demikian seterusnya," terangnnya. [bp]

Berita Terkait