Ceramah Dr. Annabel Teh Gallop tentang Mushaf Nusantara

Ceramah Dr. Annabel Tentang Mushaf Kuno Nusantara di Bayt Al-Qur'an & Museum IstiqlalJakarta (16/09/2011) - Dalam kesempatan kunjungannya selama satu minggu di Jakarta, Dr Annabel Teh Gallop, Kepala Bagian Asia Tenggara The British Library, London, sempat memberikan ceramah mengenai pengalamannya meneliti mushaf Al-Qur’an di Nusantara. Ceramah dihadiri oleh para pegawai Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dan beberapa undangan lain. Dalam ceramah dan tanya jawab yang berlangsung selama dua jam, ia membagi pengalamannya dalam bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Peserta tampak sangat antusias, karena Lajnah kebetulan tengah melakukan penelitian mushaf kuno Nusantara di sejumlah provinsi. Annabel sendiri, dalam kajian Nusantara, memulai minatnya dengan meneliti surat-surat raja Nusantara dan cap mohor (stempel).

Disertasinya di SOAS, Universitas London, berjudul “Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia” tahun 2002. Sementara, minatnya mengkaji mushaf kuno dimulai sejak sekitar tahun 2003. Ia telah menulis buku Golden Letters: Writing Traditions of Indonesia – Surat Emas: Budaya Tulis di Indonesia (bersama Bernard Arps, 1991) dan The Legacy of the Malay Letter – Warisan Warkah Melayu (1994). Selain dalam bentuk buku, ia juga sering menerbitkan tulisannya di sejumlah jurnal internasional.

Dalam ceramahnya, peneliti yang aktif menyampaikan kertas kerja di berbagai forum ilmiah ini mengemukakan empat pertanyaan yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Pertama, mengenai letak iluminasi tengah mushaf; apakah karena keistimewaan surah, dan mengapa terdapat perbedaan di sejumlah daerah? Kedua, iluminasi kosong di bagian akhir sejumlah mushaf Aceh; mengapa? Ketiga, tanda ruku’ dengan huruf ‘ain, di dalam mushaf-mushaf di Aceh tidak ada; mengapa? Dan mengapa pula huruf ‘ain itu di Jawa dibuat dalam kaligrafi yang unik? Apakah ada faktor pendidikan? Keempat, luasnya persebaran gaya iluminasi Sulawesi (Sulawesi diaspora style). Gaya rantau Sulawesi tersebar luas dari Kedah (Malaysia utara), sepanjang Sumatra, Jawa, Filipina Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Timur, hingga Ternate; mengapa gaya Sulawesi ini demikian populer?

Di samping itu, penulis produktif ini juga meminta perhatian terhadap bagian akhir beberapa mushaf Sulawesi berupa hitungan huruf-huruf Al-Qur’an yang ditulis oleh Muhammad bin Muhammad as-Samarqandi. ‘Statistik’ jumlah huruf Al-Qur’an dalam bentuk semacam kipas itu terdapat pada mushaf di Penyengat (tahun 1753), Ternate (1772) dan Bone (1804). Hal lain yang memerlukan kajian lebih lanjut adalah identifikasi doa khatam Al-Qur’an – manakah yang paling populer di Nusantara?

Setelah berceramah, pengkaji mushaf yang sangat tekun ini meneliti enam mushaf koleksi Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal. Ia tertarik dengan dua mushaf yang berasal dari Kerinci, karena mushaf dari daerah ini terbilang sangat langka. Ia juga mengkaji dengan teliti Mushaf Lalino asal Kesultanan Bima, dan semakin yakin bahwa mushaf tersebut berasal dari Terengganu, Malaysia, dengan detail hiasan yang sangat istimewa.[aa]

Berita Terkait