Kerja sama dengan STAI Al-Anwar Sarang, LPMQ Selenggarakan Workshop Mushaf Kuno

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bekerja sama dengan STAI al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, menggelar kegiatan Praktikum Kuliah Lapangan (PKL) dengan tema Studi Manuskrip Al-Qur'an pada 18-19 November 2019 di Aula Museum Istiqlal, Gedung Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal TMII Jakarta Timur. Pada hari pertama kegiatan diisi tiga narasumber dari Lajnah, Dr. H. Muchlis M. Hanafi, MA, Dr. H. Zainal Arifin Madzkur, MA. dan Mustopa, MSi.

Dr. Muchlis, Kepala LPMQ, dalam paparannya berjudul Signifikansi Kajian Mushaf Nusantara, menjelaskan ‘Kajian Mushaf Nusantara ini penting untuk memberikan kesempatan kepada mushaf kuno berbicara tentang dirinya sendiri.’ Menurutnya, ‘Hal ini penting sebab penyalinan mushaf kuno di Indonesia di masa lalu sudah berkembang luar biasa, ada berbagai macam illuminasi daerah dan bahkan disalin dengan beberapa riwayat qira’at yang berbeda-beda.’ Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa upaya yang dilakaukan oleh para peneliti di lingkungan LPMQ selama 2011-2015 telah berhasil dipublikasi dan dapat diakses oleh masyarakat secara umum melalui portal yang diresmikan oleh Menteri Agama RI, seamushaf.kemenag.go.id.

Narasumber kedua, dengan tema ‘Kajian Manuskrip Al-Qur’an Nusantara, menambahkan, “Manuskrip Al-Qur’an Nusantara tertua dalam koleksi di Indonesia yang dapat diketahui hingga kini, berasal dari awal abad ke-17, tepatnya tahun 1625, dari Singaraja, Bali.” Koleksi yang lebih tua, yang diperoleh di Johor tahun 1606 kini berada di Negeri Belanda. Untuk itu, klaim-klaim mushaf tertua sebelum itu, menurut data penelitian LPMQ, masih berupa asumsi yang belum dapat dibuktikan akurasi dan fisik mushafnya. Lebih lanjut, dalam paparan tersebut juga disampaikan bahwa berdasarkan data hingga tahun 2016, jumlah manuskrip Al-Qur’an yang tersebar di Nusantara berjumlah 1075 manuskrip dan 26 cetakan litograf (cetak batu).”

Sementara narasumber ketiga, Mustopa, MSi menyampaikan tema, “Sejarah Penyalinan Mushaf di Indonesia.” Ia menambahkan, “Kalau dirunut dari perspektif sejarah, penyalinan mushaf Al-Quran kuno Nusantara telah berlangsung, paling kurang, sejak akhir abad ke-13 ketika Pasai menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara. Hal ini dicatat dalam Rihlah Ibnu Batutah (1304-1369) ketika ia berkunjung ke Aceh sekitar tahun 1345, melaporkan bahwa Sultan Aceh sering menghadiri acara pembacaan Al-Qur’an di masjid.” Lebih lanjut dia menjelaskan, “Pengujung abad ke-19 merupakan akhir dari sejarah penyalinan mushaf Al-Qur’an secara manual dalam bentuk manuskrip.“ Pada bagian akhir penjelasannya tentang adanya nilai ekonomis sebuah mushaf kuno, Mustopa juga mengingatkan audiens tentang temuan di lapangan dari beberapa orang yang membuat duplikat mushaf yang seolah-olah kuno, namun ternyata hasil salinan baru. Mushaf seperti itu disebut biasanya disebut "mushaf kuno-kunoan". Di antara ciri mushaf ini, ‘biasanya kertas yang digunakan adalah semacam kertas semen, atau sering disebut kertas samson. Kertas kecoklatan itu memang mengesankan kuno, dan bagian pinggir biasanya dibuat agak ‘berantakan’, artinya tidak dipotong rapi, dan kadang-kadang sedikit dihanguskan, agar terkesan dari abad lampau.’ (znl)    

Berita Terkait