Rektor UIN Jambi, Radikalisme Muncul Karena Ada Kesempatan

Rektor UIN Sultan Thaha Saifuddin, Jambi, Prof. H. Suaidi, MA, Ph.D menjadi keynote speaker dalam kegiatan Diseminasi Hasil Kajian Al-Qur'an yang diselenggarakan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) yang diselenggarakan di Jambi.

Dalam kegiatan yang mengangkat tema 'Penguatan Literasi Al-Qur'an dalam Bingkai Moderasi Beragama' Suaidi menyatakan bahwa radikalisme itu muncul karena berbagai kemungkaran dan penyimpangan yang terjadi di masyrakat tidak diselesaikan oleh pihak yang berwenang. Situasi inilah yang disebutnya dengan kesempatan. Ruang kemungkaran yang dibiarkan terbuka, tidak ditutup.

Pendapat Suadi itu berangkat dari pemikiran Ricard Howward tentang Opportunistic Structure, di mana sekelompok orang akan melakukan suatu tindakan bila ruang dan waktu memberi mereka kesempatan untuk bertindak. "Kalau ruang kemungkaran itu bisa diatasi, apakah radikalisme bisa muncul? Tidak," menurut Suadi.

"Bila ruang kemungkaran itu kita ambil, radikalisme tidak punya ruang. Pasarnya tidak ada. Sebab itu, kitalah yang harus mengambil pasar itu. Penceramah, akademisi jangan sibuk berteori, melangit. Segera ambil ruang itu. Datangi dan beri solusi untuk menyelasaikan sumber kemungkaran. Datangi tempat-tempat pelacuran, orang-orang miskin, pengedar narkoba, dan sebagainya," jelasnya di hadapan 100 orang peserta Diseminasi di UIN Jambi pada hari Senin (25/11) pagi hari.

Untuk turut serta menyelesaikan sumber kemungkaran tersebut Suadi menyampaikan gagasan, bahwa pada masa kepemimpinannya sebagai rektor, UIN Jambi akan melakukan survei rutin di masyarakat sekitar terkait problem-problem kehidupan sosial mereka. Seperti soal kebersihan, kemiskinan, ketertiban, kepatuhan, dan sebagainya.

"Hasil penelitian itu akan terus kita ekspose, agar masyarakat mengetahui. Harapannya, mereka menyadari, kemudian berubah menjadi lebih baik. Kemudian kita tambahi nilai-nilai dari Al-Qur'an terkait. Ayat-ayat yang memberi solusi dan mendamaikan." Jelasnya.

"Di tingkat mahasiswa, kita akan memperkuat pemahaman keberagamaan mereka sesuai dengan prodi yang mereka pilih. Untuk itu kita akan menyusun tafsir tematik sesuai prodi. Fiqih tematik, pendidikan tematik, dan sebagainya," jelasnya menambahkan solusi. [bp]

Berita Terkait