Seminar Hasil Penelitian “Penggunaan Mushaf Al-Qur’an Standar di Masyarakat”

Jakarta (28/09/2011) - Kesadaran masyarakat muslim Indonesia dalam menghayati dan mengamalkan agama berbanding lurus dengan terbitnya berbagai macam cetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Perkembangan pencetakan mushaf ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, mulai dari gaya tulisan hingga model iluminasi yang ditampilkan dari setiap mushaf. Corak tulisan mushaf Bombay, mushaf Pakistan, mushaf Bahriyah, atau mushaf Medinah adalah di antara mushaf Al-Qur’an yang telah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Ketertarikan masyarakat dalam menggunakan sebuah mushaf, salah satunya adalah karena kemudahan membacanya. Kementerian Agama memiliki tiga mushaf standar, yaitu Mushaf Standar Usmānī, Mushaf Standar Bahriyah (disebut pula Mushaf Ayat Sudut/Pojok), dan Mushaf Standar Braille. Sejak diterbitkannya Mushaf Standar Usmānī oleh Kementerian Agama, belum ada penelitian tentang penyebarannya, penggunaannya di masyarakat, dan alasan yang mendasari seseorang menggunakan Mushaf Standar Usmānī. Oleh karena itu, penelitian tentang penggunaannya di masyarakat perlu dilakukan.

Pada seminar hasil penelitian yang diselenggarakan Rabu, 28 September 2011 di Gedung Museum Istiqlal, TMII, berbagai temuan disampaikan oleh para peneliti. Wilayah penelitiannya mencakup Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Penelitian di enam provinsi ini mengambil reponden jamaah masjid di tingkat kota dan kabupaten. Secara umum, penelitian ini menyimpulkan bahwa mayoritas masyarakat di keenam provinsi tersebut menggunakan Mushaf Al-Qur’an Standar Kementerian Agama. Alasan yang mendasari mereka memilihnya adalah bentuk tulisannya yang jelas dan mudah dibaca. Namun demikian, bagi para pembaca Al-Qur’an yang ingin menghafalnya, mereka lebih tertarik menggunakan mushaf Al-Qur’an sudut/pojok (yakni setiap halaman diakhiri dengan nomor ayat).

Berdasarkan hasil penelitian, para peneliti memberikan beberapa rekomendasi. Pertama, sosialisasi Mushaf Al-Qur’an Standar agar terus ditingkatkan. Upaya pencetakan mushaf ini oleh Kementerian Agama maupun para penerbit sangat diharapkan, sehingga persebarannya di masyarakat semakin merata. Kedua, pencetakan ulang Mushaf Al-Qur’an Standar agar lebih ditingkatkan dari segi keindahan tulisan, sehingga geliat masyarakat untuk menghafal Al-Qur’an diharapkan dapat terus meningkat. Ketiga, penelitian tentang penggunaan Mushaf Al-Qur’an Standar perlu dilanjutkan, dengan sasaran responden yang berbeda, seperti pada masjid kampus (umum atau agama). Keempat, perlu “edukasi mushaf standar” bagi pengunjung Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal.[hf]

Berita Terkait