Tiga Problem Aplikasi Al-Qur'an Digital

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) terus mengembangkan layanannya untuk masyarakat. Pesatnya perkembangan teknologi digital meniscayakan LPMQ turut memanfaatkan. Produk-produk layanan Al-Qur'an diselaraskan dengan teknologi kekinian. Salah satunya adalah dengan membangun layanan Aplikasi Al-Qur'an digital berbasis Android. Aplikasi tersebut bisa di-download via PlayStore dengan nama Qur'an Kemenag.

Selain banyak manfaatnya, aplikasi Al-Qur'an digital memiliki sejumlah kelemahan bila dibandingkan dengan mushaf Al-Qur'an cetak. Sebab, menurut Kepala LPMQ, Dr. Muchlis M. Hanafi, MA, posisi Al-Qur'an cetak belum tergantikan oleh membludaknya aplikasi Al-Qur'an digital di dunia maya.

Beberapa problem yang dihadapi Al-Quran digital antara lain, pertama, soal otoritas. Otoritas yang dimaksud di sini adalah siapa yang berani memberikan garansi bahwa semua Al-Qur'an digital yang begitu banyak, semuanya telah bebas dari kesalahan? Siapa pihak yang menjamin kesahihannya? Secara aturan, LPMQ adalah penanggungjawabnya. Namun, hal itu, belum bisa dilaksanakan dengan maksimal, mengingat begitu banyaknya layanan Al-Qur'an digital dalam bentuk aplikasi dari berbagai penjuru sunia yang bisa diunduh secara bebas di internet.

Berbeda dengan mushaf Al-Qur'an cetak. Hampir seluruh penerbit Al-Qur'an di Indonesia mentashihkan master mushafnya kepada LPMQ. Sehingga, kesahihannya lebih terjaga.

Kedua. Problem otentisitas. Teknologi bak pisau bermata dua. Berguna sekaligus berbahaya. Begitu juga ketika teks Al-Qur'an yang melazimkan bebas dari salah diformat dalam bentuk aplikasi. Otentisitasnya rawan tercederai.

"Bisa karena salah input data, sistem yang error atau hal teknis lainnya yang bisa menganggu otentisitas Al-Qur'an. Hal itu minim kita dapati dalam mushaf Al-Qur'an cetak," ungkap Muchlis dalam kegiatan FGD di Bayt Al-Qur'an Jakarta minggu lalu.

Ketiga, soal sakralitas. Ada yang terasa berbeda bila kita membandingkan antara membaca Al-Qur'an dengan mushaf cetak dan membaca dengan Al-Qur'an digital.

Perbedaan rasa tersebut menurut Muchlis karena faktor sakralitas. "Kita akan lebih khusyuk dan fokus saat membaca Al-Qur'an dengan mushaf cetak. Berbeda dengan mushaf digital, kekhusyukan kita sering terganggu dengan berbagai pesan yang tiba-tiba saja masuk di smart phone. Fokus kita juga sering terganggu dengan berbagai iklan yang terkadang tiba-tiba juga muncul di saat kita asik membaca," terangnya.

Kondisi tersebut menjadi titik kurang dari aplikasi Al-Qur'an digital. Terlebih, dengan maraknya komodifikasi Al-Qur'an atau transformasi Al-Qur'an menjadi komoditas atau objek dagang.

"Berbagai iklan yang mendatangkan rupiah bisa masuk dalam aplikasi Al-Qur'an. Kalau iklan busana muslim, bisa kita maklumi. Tapi kalau iklan obat kuat muncul dalam aplikasi Al-Qur'an digital, ini membikin kita gagal fokus," candanya disambut tawa peserta kegiatan.[bp]

Berita Terkait