Pesan untuk Para Pentashih


Selain menjelaskan pengembangan Mushaf Standar Indonesia (MSI) dalam aspek dhabt dan waqf-ibtida, Prof. Dr. KH. Said Aqil Husin al-Munawwar, MA juga memberikan motivasi bagi para pentashih mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama untuk terus memaksimalkan pengabdiannya dalam mengawal kitab suci Al-Qur’an.
Dalam awal paparanya pada kegiatan Kajian Pengembangan Mushaf Standar Indonesia, Prof. Aqil merasa bahagia bisa bertemu dengan para pentashih Al-Qur’an di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ). Ia bercerita tentang bagaimana keikhlasan para ulama pentashih Kemenag masa lalu yang hanya mendapatkan honorarium 127.000/bulan. Meskipun demikian, dedikasi para ulama tidak pernah luntur dan tergerus untuk terus berkhidmah dalam mengawal kesucian Al-Qur’an. Saat ia berkesempatan menjadi Menteri Agama, salah satu prioritasnya adalah menaikkan 1000% honorarium para ulama pentashih.

Lebih lanjut, Prof. Aqil juga bercerita bagaimana komitmen ulama masa lalu dalam menjaga Al-Qur’an. Pada tahun 1986 pada musim haji beliau pernah berjumpa dan menyimak murajaah KH Arwani Amin Kudus di Ribath Abdul Jalil Kudus Mekkah al-Mukarramah. Menurutnya, KH Arwani mampu membaca Al-Qur’an satu juz dalam waktu lima menit. Ia juga menambahkan, gurunya, Syaikh Yasin Ahmad al-Sadzily mampu membaca tiga juz dalam 25 menit, sembari menunggu pergantian mengajar di Univesitas Ummul Quro, Mekkah. Belum lagi menurut riwayat, Imam al-Syafi’i yang sehari semalam bisa mengkahatam 2 kali di tengah kesibukan dan aktivitasnya yang cukup padat.
Cerita-cerita tersebut memang agak sulit untuk dirasionalkan dalam konteks sekarang, namun menurutnya itu adalah fakta keberkahan waktu yang ia dapat buktikan sendiri di beberapa kesempatan. Untuk itu, ia mengingatkan para pentashih agar terus menjaga keikhlasan dan hafalannya meskipun sudah banyak kesibukan. Ia pun berpesan, hendaklah para pentashih serius dalam menjaga hafalannya sebagaimana para ulama pendahulu kita betul-betul mencontohkan dengan kesibukannya yang luar biasa.
Semua yang dicontohkan, baik dalam khidmah dan proses pentashihan, membuktikan keberkahan waktu bagi para penghafal Al-Qur’an. Saat ia bercerita tentang gurunya di Ummul Quro, ia sempat tertunduk beberapa saat dan meneteskan air mata, mengingat semangat khidmah-nya kepada Al-Qur’an. Saat ia bertanya kepada gurunya tentang kiatnya tersebut, sang guru menjawab, ‘Paksalah dirimu untuk terus membaca tanpa terganggu dengan keadaan dan kesibukanmu.” (znl)

Berita Terkait