Sidang Reguler Pentashihan

Bogor (24/07/2012) - Sudah menjadi “tradisi”, saat ini, setiap kali sidang tashih reguler, selain mentashih Al-Qur’an, selalu disertai dengan kajian tema tertentu. Dalam sidang tashih kali ini, tanggal 24-26 Juli 2012, Dr. Ahsin Sakho’ Muhammad, Sekretaris Tim Pelaksana Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, banyak menanggapi terkait stand pameran pada MTQ Internasional di Pontianak yang dikunjunginya waktu itu.

Menurutnya, pameran yang diadakan Lajnah punya peran strategis, selain sebagai sosialisasi program dan produk Lajnah, tidak kalah penting dari itu adalah bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan keberadaan Mushaf Standar dan problematika terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama. Karena, dalam perjalanannya, keberadaan Mushaf Standar dengan berbagai macam perbedaan dengan Mushaf Arab Saudi, dewasa ini mulai banyak ditanyakan, bahkan “dipertanyakan” oleh masyarakat luas.

Menurut Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an itu, materi yang diusung pada kegiatan pameran sebaiknya bisa menampilkan beberapa hal yang bisa disajikan dalam bentuk digital, misalnya film dokumenter, yang dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat. Penting untuk bisa ditampilkan pada event pameran Lajnah, misalnya aspek kesejarahan terkait penulisan/penyalinan Al-Qur’an dari masa ke masa, problematika penggunaan rasm usmani, perkembangan kaligrafi teks Al-Qur’an, hiasan/ornamen yang mengitarinya, dan lain-lain.

Dengan kata lain, sebenarnya Dr Ahsin ingin Lajnah memberikan pemahaman secara langsung kepada masyarakat bahwa keberadaan Lajnah merupakan bagian penting dari proses sejarah panjang tradisi penulisan, penjagaan, dan perkembangan pemahaman Al-Qur’an yang terjadi di Indonesia. Keberadaan mushaf Al-Qur’an di Indonesia dewasa ini merupakan kelanjutan dari tradisi yang sudah ada, tidak terputus dari sejarah panjang yang terjadi sebelumnya di dunia Islam.[sy]

Berita Terkait