Penyusunan Al-Qur’an Braille dan Terjemahnya

Foto Sidang Penyusunan Mushaf Al-Qur'an BrailleBandung (27/09/2012). Beberapa tahun belakangan ini, gairah penerbitan dan pencetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia tampak begitu semarak. Namun sayang, gairah ini hanya menyasar kalangan pembaca awas sehingga nyaris tidak memberi ruang yang cukup bagi kalangan tunatetra. Dengan kata lain, animo penerbitan mushaf Al-Qur’an hanya memihak mereka yang memiliki kemampuan melihat secara sempurna dan kurang berpihak pada mereka yang memiliki keterbatasan pengelihatan. Untuk itulah, Lajnah secara berkala mengadakan Sidang Penyusunan Al-Qur’an Braille dan Terjemahnya yang dimulai sejak permulaan tahun 2012 demi memenuhi kebutuhan tersebut.

Acara ini diselenggarakan tanggal 27 September 2012 bertempat di Isola Resort Meeting Services, Bandung. Sebagaimana biasa, acara penyusunan melibatkan sejumlah tunatetra yang mewakili sejumlah lembaga tunatentra seperti Yayasan Yaketunis (Yogyakarta), Wiyata Guna (Bandung), Raudatul Makhfufin (Jakarta), Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI, Bandung), UIN Bandung, dan Lajnah sebagai penyelenggara dan sekaligus peserta. Acara ini dibuka oleh Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA, selaku sekretaris Lanjah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kesembilan dari rencana penyusunan Mushaf Al-Qur’an Braille dan Terjemahnya yang dianggarkan Lajnah tahun 2012. Bertindak sebagai pemandu adalah H. Abdul Aziz Sidqi, M.Ag, selaku Kepala Bidang Pentashihan. Pembacaan dan koreksi mushaf braille, baik ayat maupun terjemah dilakukan dengan cara membentuk peserta menjadi lima kelompok dengan beberapa pembaca dan korektor, di antaranya adalah H. Ayi Ahmad Hidayat dari Wiyata Guna, Zainal Abidin, S.Pd dari Raudatul Makhfufin, Yayat Rukhiyat, S.Pd dari ITMI, dan Ridwan Effendi, M.Ag dari  UIN Sunan Gunung Jati, Bandung.

Hingga penutupan, tim koreksi dan penyusun mampu menyelesaikan koreksi mushaf Al-Qur’an sebanyak lima juz (juz 11 – 15) dan terjemahnya sebanyak 6 juz (juz 6 – 11). Upaya pembacaan, koreksi dan penyusunan  ini akan terus dilakukan Lajnah hingga terselesaikan secara sempurna 30 juz, baik ayat maupun terjemahnya. Dengan begitu, upaya pemerintah melalui Lajnah untuk memberikan fasilitas dan kemudahan bagi kalangan tunatetra dalam membaca Al-Qur’an dan juga terjemahnya bisa terpenuhi dengan baik.[mus]

Berita Terkait