Sidang Perdana Penyusunan Al-Qur’an Braille dan Terjemahnya

Foto bersama Kepala Balitbang, Kepala LPMA dan peserta Sidang(Bandung, 26/03). Bertempat di Hotel Garden Permata Hotel, Bandung, kegiatan Sidang Penyusunan Al-Qur’an Braille dan Terjemahnya kembali dimulai. Acara ini secara resmi dibuka oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof. Dr. H. Machasin, MA. Acara ini merupakan sidang penyusunan Al-Qur’an Braille perdana pada tahun 2013. Sebelumnya, tahun 2012, Lajnah sudah melaksanakan kegiatan serupa dan berhasil menyusun Al-Qur’an Braille dan Terjemahnya sebanyak 15 juz dari juz 1 sampai juz 15. Pada tahun ini, tim diharapkan mampu menyelesaikan 15 juz berikutnya, yakni juz 16 sampai dengan juz 30.

Kepala Badan sangat mengapresiasi kegiatan penyusunan Al-Qur’an Braille dan Terjemahnya, karena kegiatan ini akan menghasilkan karya monumental berupa Al-Qur’an Braille dan terjemahnya yang bisa membantu saudara-saudara kita kaum Muslim tunanetra dalam membaca Al-Qur’an. Sebab, dari kalangan tunanetra sendiri, sebagaimana dikemukakan Aan Juhana, berharap memiliki akses yang sama dengan orang awas dalam hal berinteraksi dengan Al-Qur’an. Prof. Dr. H. Machasin juga mengatakan bahwa mengingat ada kebutuhan yang sama di kalangan tunanetra untuk memahami dan menghayati isi serta kandungan Al-Qur’an sebagaimana orang awas, maka kegiatan penyusunan ini menjadi sangat penting dan dinanti-nanti. Dengan demikian, fungsi utama kitab suci Al-Qur’an sebagai hudan, pedoman dan petunjuk bagi manusia bisa dirasakan oleh semuanya.

Penekanan tentang pentingnya karya ini juga disampaikan Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Selain menyampaikan hal tersebut, kepala Lajnah juga berharap bahwa Al-Qur’an Braille ini mampu menyatukan beberapa perbedaan penggunaan rasm, yakni antara imla’i dan usmani yang selama ini berkembang di kalangan penyusun Al-Qur’an Braille, sehingga rujukan Al-Qur’an Braille dan terjemahnya di Indonesia hanya satu, yakni apa yang saat ini sedang disusun oleh Kementerian Agama RI melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran. Kepala Lajnah juga berharap bahwa penyusunan master dalam bentuk huruf Braille tidak terhenti pada Al-Qur’an dan Terjemahnya saja, namun juga berlanjut dan dikembangkan pada karya-karya lain, seperti tafsir, hadis, dan lain-lain, karena kebutuhan kaum tunanetra tentu saja tidak terbatas atau dibatasi pada dua master ini, namun juga karya-karya lain, sehingga kesempatan untuk memahami dan mendalami Islam secara lebih baik juga dimiliki oleh saudara-saudara kita dari kalangan tunanetra.

Berita Terkait