Perhelatan Tamadun Melayu I

Stand BQMIKepri (27/09/2013) - Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal (BQMI), Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an turut memeriahkan “Perhelatan Tamadun Melayu I” yang diselenggarakan dalam rangka hari jadi ke-11 Provinsi Kepulauan Riau. Untuk mengisi perhelatan yang bertemakan “Kebesaran Sejarah dan Tamadun Melayu” ini BQMI diminta secara khusus untuk menyajikan “Tradisi Penyalinan Al-Qur’an di Alam Melayu” melalui koleksi-koleksi unggulan BQMI berupa mushaf kuno, manuskrip keislaman dan benda lainnya yang berasal dari alam Melayu serta booklet hasil riset tentang tradisi penyalinan Al-Qur’an di Melayu, terutama mushaf dari era tulis tangan (manuskrip) hingga era cetak awal yang berada di Pulau Penyengat dan Pulau Lingga.

Materi dalam bentuk banner dan booklet menyajikan sejumlah koleksi manuskrip Al-Qur’an di Pulau Penyengat dan Pulau Lingga. Memaparkan sejumlah koleksi mushaf-musha kuno sebagai perkenalan awal terhadap khazanah mushaf di wilayah kepulauan ini. Sejarah mencatat, pada masa lalu, di wilayah ini pernah berdiri kerajaan besar Riau-Lingga yang mempunyai pengaruh kuat, baik secara politik maupun budaya. Naskah-naskah yang kini tersimpan di Masjid Raya Sultan Riau dan Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu – keduanya di Pulau Penyengat – maupun naskah-naskah yang ada di tangan masyarakat setempat, baik berupa naskah keagamaan maupun sastra, membuktikan dengan jelas kebesaran tanah ratusan pulau ini pada masa lalu. Namun, disayangkan, banyak di antara naskah penting itu kini dalam kondisi rusak, karena dimakan usia. Di samping mushaf manuskrip, terdapat pula mushaf cetakan dalam jumlah cukup banyak, khususnya yang disimpan di Masjid Raya Sultan Riau. Satu di antaranya adalah mushaf cetakan Bombay, India, diperkirakan akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20.

Acara yang berlangsung dari tanggal 27-29 September di Kota Tanjung Pinang ini digagas untuk mempererat silaturrahim negeri serumpun Melayu sekaligus sebagai event untuk memperkenalkan kebesaran sejarah tamadun Melayu kepada generasi saat ini. Acara dibuka secara langsung oleh Wakil Presiden RI Prof. Dr. Boediono, M.Ec. didampingi Dalam Negeri Gamawan Fauzi Menteri dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh. Dalam sambutannya wapres menekankan agar forum akbar ini dijadikan sebagai ajang untuk melestarikan, menggali dan berkreasi dalam mengembangkan khazanah budaya Melayu di tengah arus deras globalisasi. Selain itu, melalui perhelatan yang dihadiri oleh Negara-negara serumpun Melayu, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina serta 14 provinsi di Indonesia yang termasuk dalam rumpun Melayu ini mampu meningkatkan kerukunan dan  persaudaraan sesama rumpun Melayu. Pembukaan perhelatan ini juga dimeriahkan dengan karnaval budaya yang diikuti oleh kontingen masing-masing peserta, seperti Selangor, Melaka, Penang, Johor Baru, Singapura, Thailand, dan 14 provinsi serumpun Melayu serta 7 Kabupaten dan kota yang ada di wilayah Provinsi Kepri.

Berita Terkait