Lokakarya Penerbitan Mushaf Al-Qur’an

Bogor (22/10/2013) - Tidak bisa dipungkiri, bahwa penerbitan mushaf Al-Qur’an di Indonesia beberapa tahun belakangan ini mengalami peningkatan yang signifikan. Indikator mengenai hal ini diantaranya bisa dilihat dari semakin banyaknya naskah yang masuk ke Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dari sejumlah penerbit Al-Qur’an di tanah air. Namun, jumlah yang naskah yang masuk, sebagaimana dikemukakan H. Abdul Aziz Sidqi, M.Ag, selaku Kepala Bidang Pentashihan, tidak dibarengi dengan kualitas penerbitan dan pencetakan yang baik dan optimal. Untuk itulah, Bidang Pentashihan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an menyelenggarakan kegiatan ‘Lokakarya Penerbitan Mushaf Al-Qur’an’ dengan mengusung tema “Upaya Peningkatan Kualitas Penerbitan Mushaf Al-Qur’an”.

Acara ini diselenggarakan di Hotel Pangrango 2, Bogor selama tiga hari, 22 - 24 Oktober 2013. Tema di atas sengaja diangkat mengingat kualitas cetakan mushaf yang dihadirkan sejumlah penerbitan tidak sebaik yang diharapkan. Kualitas dimaksud diantaranya berupa halaman yang hilang, halaman tertukar, ayat yang kurang, hingga hal-hal lain yang mungkin kecil, namun menjadi problematis di tengah masyarakat karena menyangkut kitab suci Al-Qur’an. Fenomena ini terungkap karena terdapat sejumlah pengaduan dari masyakarat berkaitan dengan mushaf yang mereka miliki. Hal demikian disampaikan langsung oleh Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dalam sambutannya pada acara tersebut. Pada sesi ini Kepala Lajnah juga menyampaikan tentang sejumlah hal yang boleh dan tidak boleh dicantumkan dalam cetakan mushaf yang hendak dipublish kepada masyarakat secara luas.

Kegiatan Lokakarya ini berlangsung selama tiga hari, dan menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya adalah Kepala Lajnah selaku keynote speaker yang membawakan tema Kebijakan Penerbitan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia, Dr. KH. Akhsin Sakho Muhamad MA, tentang Etika Penerbitan Mushaf Al-Qur’an, Drs. H. Badri Yunardi, M.Pd tentang Aktualisasi Pesan dan Nilai Sejarah Pentashihan, H. Abdul Aziz Sidqi, M.Ag dan H. Fakhrurrozi, MA tentang Problematika Penerbitan Al-Qur’an di Indonesia, Dr. H. Husnul Hakim, MA tentang Suplemen dalam Mushaf Al-Qur’an, dan Dr. H. Ali Nurdin, MA tentang Perkembangan Terjemah Al-Qur’an. Sesi terakhir acara ini ditutup dengan perumusan hasil sidang yang dilakukan oleh panitia.

Melalui penyelenggaraan acara ini diharapkan muncul kesadaran yang baik dari praktisi penerbit untuk menghasilkan kualitas penerbitan dan pencetakan mushaf Al-Qur’an yang optimal sehingga masyarakat pembaca bisa memiliki dan membaca mushaf Al-Qur’an dengan kualitas yang baik

Berita Terkait