Diseminasi Hasil Kajian LPMQ: Gus Ahmad Kafabih Serukan Peningkatan Literasi Al-Qur'an Agar Moderat

Gus Ahmad Kafabih menyerukan pentingnya peningkatan literasi Al-Qur'an di masyarakat untuk mencegah sikap ekstrimisme dalam beragama. "Embrio dari sikap ekstrimisme adalah merasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain salah, hal ini disebabkan kurangnya literasi terhadap Al-Qur'an", ujarnya selaku narasumber dalam kegiatan Diseminasi Hasil Kajian Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) bekerja sama dengan Program Pascasarjana Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo, Selasa, (08/11) di Kediri, Jawa Timur.

Menurut putra KH. Kafabihi Mahrus tersebut, menurunnya literasi Al-Qur'an terlihat dengan adanya fenomena di masyarakat yang mencukupkan belajar Al-Qur'an saat sekolah dasar saja. Selain itu, Gus Ahmad juga mengingatkan agar santri-santri penghafal Al-Qur'an tidak hanya mengejar hafalan dan kelancaran saja, tetapi juga harus memperhatikan kefasihan bacaan, karena membaca Al-Qur'an dengan fasih bisa menarik minat orang lain untuk belajar Al-Qur'an.

"Kefasihan bacaan Al-Qur'an harus terus diasah oleh para penghafal Al-Qur'an karena daya tarik utama dari Al-Qur'an adalah pada bacaannya", ungkapnya dalam kegiatan yang dihadiri 100 orang peserta, terdiri dari civitas akademika IAI Tribakti, perwakilan pondok tahfiz dan para pengajar Al-Qur'an di sekitar Kota Kediri.

Sementara itu, menurut Koordinator Bidang Pengkajian Al-Qur'an LPMQ, H. Abdul Aziz Sidqi, MA, kurangnya literasi Al-Qur'an menjadikan wawasan seseorang tentang Al-Qur'an sempit. Contohnya soal perbedaan ragam qiraat Al-Qur'an. Karena tidak mengetahui adanya ragam qiraat dalam Al-Qur'an menyebabkan seseorang menyalahkan orang lain ketika mendapati adanya perbedaan bacaan. Hal ini pernah terjadi di Kemenag. Aziz berkisah, dalam sebuah forum di Kemenag, tiba-tiba ada seorang pimpinan salah satu ormas Islam nasional yang protes kepada Kemenag. Mengapa Kemenag membiarkan Al-Qur’an yang bacaannya salah beredar di masyarakat? Setelah diperiksa ternyata Al-Qur'an yang dimaksud adalah  mushaf riwayat Qalun ‘an Nafi, yang memang memiliki beberapa perbedaan dengan riwayat Hafsh an Ashim yang mayoritas dibaca umat Islam.

"Dari peristiwa itu, melalui LPMQ, pemerintah mulai mengenalkan ragam qiraat Al-Qur’an dengan menerbitkan mushaf Al-Qur'an dengan ragam riwayat. Dan sekarang ini, LPMQ sudah menerbitkan dua mushaf qiraat: riwayat Qalun ‘an Nafi dan Syu'bah ‘an Ashim," ungkap Aziz.

Kegiatan dengan tema "Penguatan Literasi Al-Qur'an Dalam Bingkai Moderasi Beragama" tersebut selain bertujuan untuk mengenalkan produk-produk hasil kajian Al-Qur'an LPMQ kepada masyarakat, juga untuk menjaring masukan, usulan, dan kritikan dari masyarakat sebagai bahan kajian dan penyempurnaan produk-produk LPMQ di masa mendatang.

"Kehadiran kami di sini adalah dalam rangka menjaring masukan, saran, dan kritikan dari peserta kegiatan sebagai bahan kajian dan penyempurnaan produk-produk hasil kajian Al-Qur'an di masa mendatang" jelas Bagus Purnomo, Sub Koordinator Seksi Sosialisasi dan Penerbitan LPMQ dalam sambutannya.

Beberapa produk-produk hasil kajian Al-Qur’an LPMQ dikemukakan dalam kegiatan, antara lain: Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia; versi cetak dan  digital, tafsir tematik, tafsir Ilmi, mushaf qiraat, dan lain-lain. Semua produk tersebut dapat diakses dan diunduh secara gratis melalui website pustakalajnah.kemenag.go.id. [Falahudin]

Berita Terkait