Lomba Kaligrafi Batik Nasional 2022 Diikuti 81 Karya Peserta

Lomba Kaligrafi Batik Nasional 2022 yang diselenggarakan oleh Bayt Al-Qur’an, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI dalam tahap penjurian setelah pendaftaran dan pengiriman karya ditutup pada tanggal 24 November 2022. Penjurian dilakukan pada Rabu, 30/11 di Gedung Bayt Al-Qur'an TMII Jakarta.

Lomba yang diselenggarakan tahun ini adalah Lomba Kaligrafi Batik Nasional ke 2 setelah tahun 2021 dilaksanakan yang pertama kali di Indonesia. Peserta yang mengikuti dan mengirimkan karya sebanyak 81 dari berbagai daerah di Indonesia.

Liza Mahzumah, Koordinator Bidang Bayt Al-Qur’an dan Dokumentasi LPMQ, dalam laporannya menyampaikan bahwa satu-satunya lomba kaligrafi batik yang ada di Indonesia ini bertujuan untuk melahirkan kolaborasi antara seniman kaligrafi dan pembatik agar melahirkan karya baru perpaduan antara kaligrafi dan batik yang khas Indonesia.

“Menjadi catatan kita, lomba (atau hasilnya) ini nanti kita HAKI-kan (Hak Kekayaan Intelektual-red) atas nama Bayt Al-Quran, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an,” katanya.

KH. Didin Sirojuddin AR, yang hadir sebagai narasumber penilaian mengatakan Lomba Kaligrafi semakin semarak, termasuk kaligrafi digital. Sekarang disambung lagi dengan Lomba Kaligrafi Batik, diharap lomba ini akan menyeruak ke seluruh ufuk Indonesia yang dimulai dari kantor ini (LPMQ-red). Ia mengharapkan lomba ini menjadi ‘bom’ untuk dapat dinikmati masyarakat di seluruh Indonesia.

Setelah sekilas melihat karya peserta, ia mengungkapkan bahwa pada dasarnya kaligrafi ada dua kemungkinan, yaitu tradisional dan kontemporer. Dalam penilaian, ada dua pokok yang akan dinilai yaitu kebenaran dan keindahan. “Pertama, kebenaran. Baik kebenaran tulisannya, keterbacaannya maupun kebenaran khotnya. Yang kedua keindahannya. Yaitu menyangkut susunannya, dll. Kalau misalnya kaligrafinya sudah betul semua, belum tentu juga juara satu, karena untuk menjadi juara syaratnya harus benar, indah, dan baik,” ujar pengasuh Pesantren Lemka Sukabumi ini.

Dari sisi batik, Komarudin Kudiya, Ketua Asosiasi Pengusaha dan Pengrajin Batik Indonesia (APPBI) berharap lomba ini memantik para pengrajin dan pengusaha batik semakin kreatif dan bisa menguasai teknik pembuatan kaligrafi batik.

Ia juga menyampaikan, pada pekan yang lalu saat di bursa batik Indonesia sudah muncul pengrajin yang menjual produk kaligrafi batik. Tapi tulisannya belum tentu benar, karena belum mengikuti kaidah ‘benar, indah, dan baik’.  

“Semangat untuk mengikuti Lomba Kaligrafi Batik yang telah diinisiasi oleh Bayt Al-Qur’an ini sudah sampai ke masyarakat. Keinginan menumbuhkan ekonomi kreatif baru itu sudah sampai di masyrakat. Provokaksinya sudah sampai. Kami bersyukur alhamdulillah,” tuturnya.

Menurutnya, untuk membuat batik yang indah, normalnya dibutuhkan waktu tiga bulan. Untuk penilaian akan dilihat dari hasil pelilinannya, penglowongannya, penembokan, penutupan, dan lainnya. Ketika penutupannya tidak dibuat gelap, pasti membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama.

“Kalau yang dasarnya hitam itu sebenarnya untuk menutupi kelemahan kesalahan ketika memberikan warna.  Jadi dengan warna hitam, kalau ada warna yang gagal atau salah akan hilang. Berbeda dengan yang warna dasarnya putih, gading, atau yang warna dasarnya lebih terang dibanding dari tulisannya itu pengerjaannya lebih susah,” tutup kudiya. (Ath)

Berita Terkait