LPMQ Kenalkan Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia kepada Santri

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) secara konsisten memperkenalkan Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (MSI) kepada masyarakat Indonesia. Tugas ini dipandang penting mengingat MSI adalah Al-Qur'an yang paling banyak dicetak, diedarkan, dan dibaca oleh mayoritas penduduk muslim Indonesia.

Di penghujung tahun 2021 LPMQ kembali mengenalkan MSI kepada santri pondok pesantren dalam kegiatan Diseminasi Hasil Kajian. Kegiatan kali ini dilaksanakan bekerja sama dengan pesantren Darussalam, Kersamanah, Garut, Jawa Barat, dengan tajuk 'Mengenal Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia'.

Dalam sambutannya, KH. Asep Sopian, selaku wakil pimpinan pesantren menyambut gembira kegiatan ini. Menurutnya, materi ini adalah pengetahuan yang baru bagi santri Darussalam. Karena di pesantren tidak ada materi khusus tentang MSI, hanya pelajaran ulumul Qur’an secara umum.

"Mengenal MSI adalah pengetahuan yang baru bagi santri dan ini penting. Kita semua harus tahu, karena selama ini mushaf Al-Qur'an yang kita baca adalah MSI, tapi kita belum tahu apa dan bagaimana MSI ini," ungkap salah satu penanggung jawab pesantren putri Darussalam tersebut pada hari Rabu, (22/12), di Garut, Jawa Barat.

"Kepada anak-anakku, siswa akhir, baik yang putra atau putri, materi dalam kegiatan ini adalah salah satu bekal kalian dari pesantren, sebelum kalian nanti kembali kepada masyarakat. Perhatikan baik-baik, agar kalian mendapat pengetahuan baru dan mampu menjelaskannya kepada masyarakat bila ada yang bertanya tentang Al-Qur'an," pesannya kepada 325 orang santri yang hadir sebagai peserta kegiatan.

Sementara itu, menurut Bagus Purnomo, dalam penjelasannya sebagai pemateri mengatakan, setidaknya ada tiga argumen mendasar mengapa LPMQ perlu mengenalkan MSI kepada santri. Pertama, santri adalah kelompok masyarakat 'pengguna' MSI paling besar. Di Indonesia ada ratusan pondok pesantren dengan ratusan ribu-ribu santrinya. Bila sepertiga dari mereka saja mengenal MSI maka Kemenag akan sangat terbantu menjelaskan bila ada persoalan terkait mushaf Al-Qur'an di tengah masyarakat. Karena mereka adalah bagian dari komponen masyarakat.

Kedua, santri adalah pembaca Al-Qur'an paling intens dan kritis; rutin membaca, sekaligus mengkaji. Dengan mempelajari MSI secara otomatis mereka akan berkenalan dengan seperangkat ilmu Al-Qur’an yang melingkupi lahirnya MSI seperti Ilmu Rasm, Ilmu Dhabt, Ilmu Waqaf Ibtida, sejarah penulisan Al-Qur’an, ragam sistem penulisan Mushaf Al-Qur’an di dunia Islam, dan lainnya. Dengan demikian pengetahuan mereka dalam ulumul Qur’an semakin lengkap.

Ketiga, untuk menanamkan rasa cinta kepada agama sekaligus kepada negara. Karena dengan mempelajari sejarah lahirnya MSI mereka akan tahu bagaimana para ulama Al-Qur’an bersama dengan pemerintah berusaha menjaga kesucian kitab suci Al-Qur'an. Sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga komponen-komponen keagamaan di negara ini tetap berlangsung hingga sekarang.

"Dengan mempelajari sejarah penyusunan MSI kita akan tahu bagaimana negara ini bersama para ulama Al-Qur'an hadir, berperan serta aktif dan serius menjaga otentisitas mushaf Al-Qur’an yang beredar di Indonesia, hingga saat ini. Oleh sebab itu, kita patut bersyukur menjadi warga negara Indonesia," ungkap koordinator Seksi Sosialisasi dan Penerbitan itu bersemangat. [bp]

 

 

 

Berita Terkait