Berita Terbaru

Tentang LPMQ
Visi dan Misi
Tugas dan Fungsi

Sebagai wujud perhatian pemerintah untuk menjamin kesucian teks Al-Qur'an dari berbagai kesalahan dan kekurangan dalam penulisan Al-Qur'an tersebut, pada tahun 1957 dibentuk suatu lembaga kepanitiaan yang bertugas mentashih (memeriksa/ mengoreksi) setiap mushaf Al-Qur'an yang akan dicetak dan diedarkan kepada masyarakat Indonesia. Lembaga tersebut diberi nama Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an. Namun keberadaan lembaga ini tidak muncul dalam struktur tersendiri, dan hanya merupakan semacam panitia adhoc. Lembaga tersebut menjadi bagian dari Puslitbang Lektur Keagamaan, bahkan dalam PMA no. 3 tahun 2006 tentang organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama nomenklatur Lajnah tidak disebut sama sekali, meskipun tugasnya terurai dalam tugas pokok dan fungsi (tupoksi). Padahal Lajnah mengemban tugas yang berat dan penting dengan volume dan cakupan pekerjaan yang luas, serta tanggung jawab yang besar, karena terkait dengan kajian dan pemeliharaan kitab suci Al-Qur'an.

Baca selengkapnya

Visi

Terwujudnya kebijakan pembangunan agama di bidang penyebaran mushaf Al-Qur'an dan sosialisasi Al-Qur'an berdasarkan penelitian Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.

Misi

Meningkatkan kualitas pentashihan mushaf Al-Qur'an dalam rangka peningkatan kualitas palayanan kehidupan beragama. Meningkatkan kualitas pengkajian Al-Qur'an dalam rangka peningkatan kualitas bimbingan, pemahaman, pengamalan, dan pelayanan kehidupan beragama, serta peningkatan penghayatan moral dan etika keagamaan. Meningkatkan kualitas pendokumentasian dan pemeliharaan manuskrip mushaf , produk Al-Qur'an cetak maupun elektronik, dan benda benda keislaman, dengan mengoptimalkan fungsi Bayt Al-Qur'an dan Museum Istiqlal

Tugas

Menyelenggarakan Pentashihan, pengkajian dan penerbitan Al-Qur'an berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat

Fungsi

Perumusan visi, misi dan kebijakan di bidang pentashihan, pengkajian, dan penerbitan Al-Qur'an; Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di bidang pentashihan, pengkajian, dan penerbitan Al-Qur'an; Perumusan kebijakan dan perencanaan program serta pelaksanaan kegiatan di bidang pengelolaan Bayt Al-Qur'an dan dokumentasi; Penerbitan surat tanda tashih dan surat izin beredar Al-Qur'an; dan Sosialisasi dan pelaporan hasil-hasil kegiatan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.

Layanan PentashihanLayanan Tashih Online

Layanan Tashih Online Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia.

Aplikasi ini disediakan untuk memudahkan masyarakat dalam mengajukan permohonan tanda tashih, informasi seputar pentashihan dan mushaf Al-Qur'an, serta laporan dan aduan mushaf bermasalah.

Informasi Selengkapnya 

Layanan KunjunganBayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal

Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal (BQMI) salah satu museum yang ada di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur. Museum ini menyimpan materi inti yang merupakan hasil pemahaman, pengkajian, dan apresiasi umat Islam Indonesia terhadap kitab sucinya, yang meliputi manuskrip Al-Qur'an, Al-Qur'an cetakan, Al-Qur'an produk elektronik dan digital, terjemahan dan tafsir Al-Qur'an. Selain itu juga menyajikan koleksi karya seni budaya bangsa Indonesia yang bernafaskan Islam, antara lain berupa manuskrip keagamaan (selain Al-Qur'an), karya arsitektur, tekstil, nisan, seni rupa tradisional, seni rupa modern, serta benda-benda warisan budaya Islam lainnya.

  Informasi Selengkapnya

Peninggalan mushaf tersebut tersimpan di berbagai perpustakaan, museum, kolektor, dan para ahli waris. Tidak sedikit yang belum mendapatkan perhatian layak. Aspek-aspek mushaf kuno mengenai sejarah penulisannya, rasm, qiraat, terjemahannya ke bahasa-bahasa lokal, iluminasi dan kaligrafinya termasuk sisi-sisi yang belum banyak diteliti.

Penelitian mushaf kuno ini paling tidak dapat mengidentifikasi, mengiventarisasi, dan mendokumentasi mushaf kuno sehingga hasil kajian tersebut dinikmati oleh para pemerhati mushaf. Penelitian kali ini dilakukan di beberapa provinsi, yaitu Aceh, Cirebon, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Museum Negeri Aceh memiliki koleksi Al-Qur'an sebanyak 53 buah, dan sepuluh mushaf di antaranya diteliti. Di Cirebon terdapat 18 mushaf, sedangkan di Surakarta, Jawa Tengah, terdapat 10 mushaf (tulis tangan dan cetak) dalam kondisi baik dan empat mushaf sudah rusak. Dari sekian banyak mushaf yang terdapat di Jawa Timur, 14 di antaranya diteliti, tujuh koleksi Museum Mpu Tantular, dan tujuh mushaf lainnya dari Sumenep. Adapun mushaf kuno dari Sulawesi yang diteliti berjumlah 11 mushaf, lima berasal dari Bau-bau, satu dari museum di Kendari, dan lima dari Makassar.

Seminar hasil penelitian dilaksanakan di gedung Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal Taman Mini Indonesia Indah, dihadiri oleh para undangan yang terdiri dari para peneliti, pemerhati mushaf, dan pegawai Lajnah. Dua narasumber yang hadir adalah Prof Dr Syarif Hidayat dari Universitas Padjadjaran dan Dr Oman Fathurahman dari Universtas Islam Negeri Jakarta.

Secara umum, hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa sejumlah mushaf kuno di beberapa wilayah Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius sehingga hasil karya para ulama dan penyalin mushaf tersebut dapat dilestarikan. Beberapa saran menjadi penting untuk ditindaklanjuti, di antaranya, perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang keberadaan mushaf kuno, membuat katalog khusus mushaf kuno, mengupayakan terhimpunnya mushaf kuno di Bayt Al-Qur'an, serta sosialisasi tentang kekayaan khazanah mushaf kuno kepada masyarakat Indonesia.[hf]