Kamis (4/6/2026), sebanyak 29 santri dan 5 pengurus Pesantren Pascatahfiz Bayt Al-Quran - Pusat Studi Al-Quran (PSQ) mengunjungi Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ). Kunjungan yang mengangkat tema "Metode Pentashihan Mushaf Standar Indonesia" ini berlangsung di lantai 2 LPMQ dan dibuka dengan pembacaan Al-Qur'an oleh Vina Zazilatunni'mah, santri Bayt Al-Qur'an angkatan 36, dengan riwayat Imam Warsy dan Qalun dari Imam Nafi'.
Ust. M. Nashrulloh selaku perwakilan pengurus Pesantren Bayt Al-Quran menyampaikan sambutan sekaligus mengantar tujuan kunjungan. Ia menerangkan bahwa kegiatan ini dimaksudkan agar para santri dapat melihat dan memahami secara langsung bagaimana proses pentashihan mushaf Al-Quran sesungguhnya berjalan, mulai dari tahapan pemeriksaan hingga standar yang digunakan LPMQ dalam menilai kesesuaian sebuah mushaf.
Materi disampaikan oleh Dr. Fahrur Rozi, M.A., yang menguraikan berbagai aspek yang harus dikuasai seorang pentashih sebelum menjalankan tugasnya. Ia menegaskan bahwa sebelum menashih, seorang pentashih wajib memahami karakter mushaf yang akan ditashih. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran awal akan mushaf tersebut. Selain itu, ada beberapa keilmuan yang harus dikuasai, mencakup penguasaan atas ilmu rasm, ḍabṭ, waqaf-ibtidāʾ, ʿaddul āy, dan kaidah-kaidah terkait lainnya.
Dr. Rozi juga menguraikan polemik lama di masyarakat yang mengklaim suatu mushaf Al-Qur'an sebagai mushaf Usmani, sedangkan yang lain tidak. Menurutnya, mushaf-mushaf yang beredar di dunia, semuanya benar sesuai kaidah yang diikuti masing-masing. Seperti diketahui, dalam ilmu Rasm ada 2 tokoh utama yang dijadikan acuan, yakni Imam Abu 'Amr ad-Dani (w. 444 H.) dengan kitabnya Al-Muqni' fi Ma'rifati Marsumi Masahif al-Amsar dan Abu Dawud Sulaiman Ibnu Najah (w. 490 H.) dengan kitabnya at-Tabyin li Hija' at-Tanzil. Adapun Mushaf Standar Indonesia (MSI) sendiri lebih memilih pendapat ad-Dani.
Di ujung paparannya, Dr. Rozi menyampaikan pesan yang menggambarkan kedalaman ilmu yang dibutuhkan dalam bidang ini. "Pentashihan secara teknis, mudah. Namun, menjawab pertanyaan yang ada di balik proses pentashihan, perlu ilmu banyak," ujarnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik pentashihan. Para santri diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses pemeriksaan mushaf. Masing-masing santri diberikan dua lembar contoh naskah mushaf Al-Qur'an untuk ditashih, sehingga mereka dapat merasakan sendiri bagaimana proses pemeriksaan mushaf dilakukan secara teliti sesuai kaidah yang berlaku.
Para santri tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Salah satu di antaranya, Mujahid Jamalul Falah, mengungkapkan kesannya usai kegiatan. "Senang mengikuti kegiatan ini, kami para santri bisa merasakan bagaimana proses pentashihan mushaf Al-Qur'an meskipun dalam skala kecil," ucapnya.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif. Para santri mengajukan sejumlah pertanyaan seputar teknis pentashihan dan standar mushaf yang berlaku di Indonesia, yang dijawab langsung oleh Dr. Rozi sebagai narasumber.

