Pasangan KH Muhammad Amin dan Nyai Hj. Ruqayyah melahirkan seorang anak laki-laki pada tanggal 27 Sya‘ban 1347 H, bertepatan dengan bulan Juni 1920 M. Anak tersebut kelak dikenal dengan Abuya KH Muhammad Dimyati. Pendidikan agama sejak dini diterima Abuya dari ayahnya. Setelah bersekolah di Verpolg School, selain masih mengaji dengan ayahnya, Abuya juga mengaji kepada KH Zuhdi (menantu Kiai Madjid). Tamat dari Verpolg pada tahun 1936, para gurunya menyarankan Abuya untuk melanjutkan ke HIS, namun Abuya memilih mengaji di pesantren sesuai dengan pilihan ayahnya. Pada tahun 1942 Abuya melanjutkan sekolah di Pesantren Kadupeusing, Kelurahan Kabayan, Kecamatan Pandeglang, Banten, di bawah asuhan Abuya KH Tubagus Abdul Halim bin KH Tubagus Muhammad Amin dengan beberapa asistennya, seperti KH As‘aduddin, KH Muslim, dan KH Ace Syazili.

Salah satu masalah krusial dalam meneliti mushaf Al-Qur’an cetakan adalah sedikitnya penerbit yang mencantumkan tahun cetakan. Ini tidak seperti cetakan buku bacaan biasa yang di halaman bagian depan buku hampir selalu mencantumkan cetakan keberapa dan tahun berapa.

Sebagai contoh, sebuah mushaf yang penulis beli di sebuah toko di dekat Masjid Agung Surakarta pada 16 Agustus 2016 lalu. Mushaf yang diterbitkan oleh sebuah penerbit di Surakarta ini tidak mencantumkan tahun cetak, sehingga sulit untuk memastikan tahun berapa dicetak. Kondisi mushaf masih baru, dan pasti belum lama masuk di pasar. Satu-satunya penanggalan yang ada pada mushaf ini tercantum di tanda tashih. Mushaf ini ditashih pada 6 Maret 1989, dengan nomor P.III/TL.02.1/057/1989 (lihat Gambar).

Tengku Majidddin Jusuf salah seorang alim Aceh yang menaruh perhatian besar dalam mendidik masyarakat untuk mencintai Al-Qur’an, dilahirkan di Peusangan, Aceh Utara, Senin 16 September 1918. Lahir dari seorang ibu bernama Fatimah dan ayah bernama Jusuf bin Atjeh bin Polem (lebih dikenal dengan panggilan Fakir Jusuf atau Ma’ Oesoeh). Tengku Mahjiddin memiliki saudara sekandung bernama Mansur dan Abdullah, sedangkan saudara dari ibu tirinya (Atiyah) berjumlah sembilan orang. Dia sendiri pernah menikah tiga kali, pertama dengan Romlah (beranak tiga), kedua dengan Aisyah Razak (beranak tujuh), dan ketiga dengan Rawiyah (tidak dikaruniai anak).

Dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), 30 Juli-6 Agustus 2016, Lajnah menerbitkan katalog Khazanah Mushaf Al-Qur'an Nusa Tenggara Barat. Buku kecil ini memberikan gambaran singkat mengenai tradisi mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan penelusuran berbagai koleksi, baik di Pulau Lombok, Sumbawa, dan tempat lainnya, terkumpul 29 naskah mushaf seperti yang terkumpul dalam katalog ini. Tentu jumlah ini merupakan angka sementara, karena masih ada koleksi di tangan masyarakat yang belum terdokumentasi. Ke-29 mushaf yang terhimpun dalam katalog ini diklasifikasi dalam lima kelompok, yaitu mushaf asal Kesultanan Bima 2 naskah, mushaf asal Kesultanan Sumbawa 5 naskah, mushaf koleksi Museum Negeri NTB di Mataram 15 naskah, koleksi mushaf yang tersebar di beberapa tempat 5 naskah, serta 2 naskah tambahan lainnya merupakan cetakan Singapura abad ke-19 yang disalin oleh penulis asal Sumbawa.

Tengku Haji Umar bin Auf (lebih dikenal dengan nama Tengku Chik Umar atau Tengku Chik di Lam U) menikah dengan Hj. Shafiah dan melahirkan Tengku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri (lebih dikenal dengan panggilan Tengku Abu Indrapuri) pada tanggal 3 Juni 1888 M/23 Ramadan 1305 H di kampung Lam U, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Tengku Haji Umar bin Auf termasuk salah seorang alim ternama, khususnya dalam ilmu fikih, dan seorang hafiz Al-Qur’an yang hidup pada masa Sultan Alauddin Mahmud Syah (1870-1873), sedangkan Tengku Haji Ahmad Hasballah adalah anak pertamanya. Dari ibu yang sama, Tengku Haji Ahmad Hasballah mempunyai satu adik bernama Tengku Muhammad Dahlan (lahir 1891), sedangkan dari ibu kedua (Nyak Sunteng, dari Lam U) dikaruniai adik bernama Tengku Haji Abdullah Umar Lam U (1888-1967) dan dari ibu ketiga (berasal dari Niron Aneuk Bate) dikaruniai adik bernama Tengku Abdul Hamid (dikenal dengan Tengku Aneuk Bate, lahir tahun 1894).