Apakah filsafat Jawa sejalan dengan Islam?
Dalam buku "Mati Sebelum Mati Buka Kesadaran Hakiki", Fahruddin Faiz merefleksikan nilai-nilai falsafah Jawa dengan nilai-nilai Al-Qur'an. Buku ini merupakan karya Fahruddin Faiz yang secara spesifik mengupas kearifan-kearifan Jawa.
Hadirnya buku ini merupakan hasil inventarisir dari dialog positif kajian Fahruddin Faiz yang berjudul "Tataran Ilmu Jawa" sekaligus respon terhadap generasi muda hari ini yang mulai meninggalkan kearifan-kearifan lokalnya dengan dalih sudah klise, out of death lah atau zaman sudah berubah dan lain sebagainya. [1]
Dalam bukunya, Fahruddin Faiz mengupas enam kunci falsafah hidup dalam budaya Jawa.
Pertama, manunggaling kawula-Gusti, dengan sederhana dan renyah namun sangat substantif, Fahruddin Faiz mengartikan sebagai "menyatukan kehendak kita dengan kehendak Allah".
Maksudnya, orang disebut manunggal atau bersatu dengan Gusti-nya adalah manakala keinginannya sejalan dengan keinginan Tuhan. Nah, dalam memahami falsafah jawa ini dengan sudut pandang Islam, Fahruddin Faiz menggunakan ayat:
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ ٣٠
Kamu tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (Surah Al-Insan [76]: 30). Maksudnya adalah bahwa segala kehendak yang berlaku itu kehendak Allah.
Kedua, sangkan paraning dumadi atau mengetahui asal dan tujuan kehidupan. Menurut Fahruddin Faiz falsafah ini persis dengan ayat:
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦
(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "innā lillāhi wa innā liahi rāji'ūn" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali) (Surah Al-Baqarah [2]: 156).
Dari ayat ini, Fahruddin Faiz ingin mengatakan bahwa dalam berkehidupan, orang Jawa menggunakan kesadaran "innā lillāhi wa innā liahi rāji'ūn", kesadaran bagaimana apa yang ada di dunia tidak akan ada selamanya dan puncaknya adalah kembali kepada Allah.
Ketiga, memayu hayuning bawana artinya mempercantik kecantikan alam semesta. Menurut Fahruddin Faiz maksud falsafah ini bahwa kehadiran manusia di dunia ini adalah untuk mempercantik bukan malah merusak, dan falsafah ini selaras dengan ayat:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦
Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik (Surah Al-A'rāf [7]: 56). [2]
Keempat, falsafah cakra manggilingan, mengajarkan bahwa hidup ini silih berganti. Hidup itu kadang susah kadang senang, kadang di atas kadang di bawah. Fahruddin Faiz membaca falsafah ini dengan ayat:
وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى ٤٣
Bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis (Surah An-Najm [53]: 43)
Kelima, sastra jandra hayuningrat atau ilmu para raja, ilmunya orang-orang khusus. Ayat yang digunakan Fahruddin Faiz untuk menjelaskan falsafah ini adalah
وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ٥٩
Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (lauhulmahfuz) (Surah Al-An'ām [6]: 59).
Maksudnya dalam segala sesuatu pasti ada makna dan hikmahnya yang mana hanya orang-orang tertentu yang mampu mengungkap dan menjelaskannya. Itulah mengapa disebut sastra jendra hayuningrat atau ilmunya orang-orang khusus.
Keenam, filosofi terakhir dalam hidup orang jawa menurut catatan Fahruddin Faiz adalah tapa lan tirakat atau yang dalam tasawuf biasa disebut dengan uzlah dan puasa. Maknanya adalah keluar atau menjauh dari keramaian agar supaya dapat terlihat dan terurai mana yang benar dan mana yang salah. [3]
"Baik ataupun buruk peristiwa yang terjadi di dunia ini akan bisa terlihat lebih jernih manakala kita mengambil jarak dirinya" tandas Fahruddin Faiz dalam bukunya. Kemudian ia memberikan gambaran falsafah ini dengan ayat:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ ١١٦
Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang (kafir) di bumi ini (dalam urusn agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti prasngka belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan (Surah Al-An'ām [6]: 116).
Untuk mengetahui apakah filsafat Jawa sejalan dengan Islam maka perlu kita lihat pada level pembahasannya. Ketika pembahasannya pada level nilai-nilai, pandangan-pandangan umum, wawasan-wawasan kemanusiaan, keagamaan, spiritual maka tidak akan bertabrakan antara Jawa dan Islam.
Bahkan dari sisi akhlak ataupun moral, satu-satunya yang berbeda namun tidak bertabrakan adalah pada aspek implementasi fisik atau dalam agama ritualnya. Fahruddin Faiz juga mengungkapkan bahwa sebagian besar wawasan kejawaan berhubungan dengan pengelolaan diri dan pengendalian diri.
Hal ini dapet menjadi variabel solutif dari problem hari ini seperti kekacauan keilmuan, kekacauan dunia pendidikan, termasuk kekacauan diranah politik, serta kekacauan diranah lingkungan dan alam.
[1] Lihat “Talkshow Buku Mati Sebelum Mati Bersama Fahruddin Faiz” diakses 8 Januari 2025 pada https://www.youtube.com/watch?v=VxMqovDpcow.
[2] Terjemahan kemenag 2019.
[3] Lihat Fahruddin Faiz, Mati Sebelum Mati Buka Kesadaran Hakiki: Jakarta Selatan: PT Mizan Publika, Cet ke-4 2024. Hal 39.

