Penulisan Hamzah Setelah Alif Bertemu Dhamir Menurut Imam ad-Dānī dalam al-Muqni’

Mengapa kata جَزَاۤؤُهٗٓ dalam mushaf al-Qur’an ditulis berbeda dengan kaidah ejaan Arab yang kita kenal sekarang? Demikian pula lafaz seperti اَبْنَاۤؤُكُمْ, اَوْلِيَاۤؤُهٗٓ, atau مِنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ. Apakah bentuk penulisannya merupakan pengecualian, atau memang memiliki kaidah tersendiri?

Menimbang Praktik Keagamaan dengan Tradisi: Kritik Moh. E. Hasim dalam Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun

Keunikan Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun bukan hanya pada kekuatan lokalitas bahasanya, tetapi juga pada keberanian Hasim menyuarakan kritik pada praktik keagamaan masyarakat melalui tafsirnya. Sebagaimana yang sudah disinggung dalam tulisan sebelumnya, bahwa tafsir Hasim bercorak sosial- kemasyarakatan, banyak dijumpai dalam penafsirannya bahwa ia tidak hanya sekedar menjelaskan makna ayat, lebih dari itu Hasim mengaitkan dengan permasalahan di masyarakat pada saat itu.

Dari Bahasa Sunda ke Makna Al- Quran: Metodologi Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun

Pada tulisan sebelumnya, kita sudah mengenal bahwa Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun merupakan tafsir berbahasa Sunda lengkap 30 juz yang penafsirannya tidak luput dari unsur lokalitas di dalamnya. Moh. E. Hasim sebagai pribadi yang semasa mudanya aktif menjadi guru bahasa dan andil di dunia militer. Ia mempelajari bahasa Arab secara otodidak di masa pensiun membuatnya mampu menulis tafsir Al- Quran 30 juz lengkap bermodalkan tafsir Al-Quran, kamus bahasa Arab dan buku pengajaran bahasa Sunda.

Kontak

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Gedung Bayt Al-Qur`an & Museum Istiqlal
Jalan Raya TMII Pintu I Jakarta Timur 13560
Telp: (021) 8416468 - 8416466
Faks: (021) 8416468
Web: lajnah.kemenag.go.id
Email: lajnah@kemenag.go.id

Temukan Lokasi Kami

© 2025 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. All Rights Reserved