Penulisan rasm kata (كل ما ) dalam Al-Qur’an setidaknya tersebar dalam 18 tempat. Ada yang dituliskanya dengan disambung (al-washl) ada juga yang dituliskan dengan dipisah (al-fashl).

Dalam Mushaf Standar Indonesia (MSI) 16 tempat dituliskan dengan disambung (كلما ) yang terdapat dalam; Qs. Al-Baqarah/2: 20, 25, 87, 100 Qs. Ali Imran/3: 37, Qs. An-Nisa/4: 56, Qs. Al-Maidah/5: 64, 70, Qs. Al-A’raf/7: 38, Qs. Hud/11: 38, Qs. Al-Isra/17: 97, Qs. Al-Hajj/22: 22, Qs. Al-Mu’minun/23: 44, Qs. As-Sajdah/32: 20, Qs. Al-Mulk/67: 8, Qs. Nuh/71: 7. Sementara yang dituliskan dengan terpisah (كل ما ) yaitu yang terdapat dalam Qs. An-Nisa/4: 91 dan Qs. Ibrahim/14: 34.

Apakah filsafat Jawa sejalan dengan Islam?

Dalam buku "Mati Sebelum Mati Buka Kesadaran Hakiki", Fahruddin Faiz merefleksikan nilai-nilai falsafah Jawa dengan nilai-nilai Al-Qur'an. Buku ini merupakan karya Fahruddin Faiz yang secara spesifik mengupas kearifan-kearifan Jawa.

Dharma Manusia dalam Al-Qur’an (Telaah atas Gagasan Ali Akbar dalam Buku Arkeologi Al-Qur’an)

Di antara 41 pembahasan yang disajikan Ali Akbar dalam Buku Arkeologi Al-Qur’an, terdapat satu tema yang layak direnungkan, terutama di penghujung tahun yaitu Dharma manusia kepada Allah SWT. Tema ini tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan tumbuh dari cara penulis membaca Al-Qur’an sebagai teks yang berdialog dengan pengalaman hidup manusia. Ali Akbar memulai pembahasannya dengan mengurai makna dharma, lalu mengarahkannya pada dua mandat utama yang menjadi fondasi keberadaan manusia menurut Al-Qur’an.[1]

Bahasa Arab dan Al-Qur’an dalam Pandangan Imam Asy-Syafi‘i:  Telaah atas Kitab Ar-Risālah

Perdebatan tentang bahasa Al-Qur’an bukanlah isu pinggiran dalam khazanah keilmuan Islam klasik. Sejak masa-masa awal, telah muncul pertanyaan: apakah Al-Qur’an sepenuhnya berbahasa Arab, ataukah di dalamnya terdapat unsur-unsur non-Arab? Imam Asy-Syafi‘i (w. 204 H) tampil sebagai salah satu tokoh paling tegas dan sistematis dalam menjawab persoalan ini. Baginya, bahasa Arab bukan sekadar medium wahyu, melainkan kunci epistemologis untuk memahami agama itu sendiri. Pandangannya tentang bahasa Arab dan Al-Qur’an bukan hanya bersifat linguistik, tetapi juga teologis, metodologis, dan praktis.

Kontak

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Gedung Bayt Al-Qur`an & Museum Istiqlal
Jalan Raya TMII Pintu I Jakarta Timur 13560
Telp: (021) 8416468 - 8416466
Faks: (021) 8416468
Web: lajnah.kemenag.go.id
Email: lajnah@kemenag.go.id

Temukan Lokasi Kami

© 2025 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. All Rights Reserved