Literatur Arabic Grammar mendefiniskan jamak muzakkar salim sebagai sebuah isim yang bercirikan waw nun (وْنَ) atau ya’ nun (يْنَ) yang lazim berasal dari isim mufrad muzakkar ‘aqil. Di sepanjang 6236 ayat dalam al-Qur`an, jamak muzakkar salim bertebaran di berbagai surah, terutama jamak yang berakar pada sulasi mujarrad dan sulasi mazid. Uniknya, terdapat tiga nama surah yang menggunakan pola jamak muzakkar salim, yakni QS. al-Mu`minun (المُؤْمِنُوْنَ), al-Munafiqun (الْمُنٰفِقُوْنَ), dan al-Muthaffifin (المُطَفِّفِيْنَ). Karena itu, jamak ini mendapat bagian khusus dalam diskursus Ilmu Rasm dengan menyoroti kedudukan huruf waw dan ya` yang terletak sebelum huruf terakhir (nun). Kedua huruf tersebut memiliki dua kemungkinan; itsbat atau hazf. Itsbat berarti kedua huruf tersebut tetap dituliskan, sementara hazf berarti penghapusan huruf. 

Penulisan rasm kata (كل ما ) dalam Al-Qur’an setidaknya tersebar dalam 18 tempat. Ada yang dituliskanya dengan disambung (al-washl) ada juga yang dituliskan dengan dipisah (al-fashl).

Dalam Mushaf Standar Indonesia (MSI) 16 tempat dituliskan dengan disambung (كلما ) yang terdapat dalam; Qs. Al-Baqarah/2: 20, 25, 87, 100 Qs. Ali Imran/3: 37, Qs. An-Nisa/4: 56, Qs. Al-Maidah/5: 64, 70, Qs. Al-A’raf/7: 38, Qs. Hud/11: 38, Qs. Al-Isra/17: 97, Qs. Al-Hajj/22: 22, Qs. Al-Mu’minun/23: 44, Qs. As-Sajdah/32: 20, Qs. Al-Mulk/67: 8, Qs. Nuh/71: 7. Sementara yang dituliskan dengan terpisah (كل ما ) yaitu yang terdapat dalam Qs. An-Nisa/4: 91 dan Qs. Ibrahim/14: 34.

Apakah filsafat Jawa sejalan dengan Islam?

Dalam buku "Mati Sebelum Mati Buka Kesadaran Hakiki", Fahruddin Faiz merefleksikan nilai-nilai falsafah Jawa dengan nilai-nilai Al-Qur'an. Buku ini merupakan karya Fahruddin Faiz yang secara spesifik mengupas kearifan-kearifan Jawa.

Dharma Manusia dalam Al-Qur’an (Telaah atas Gagasan Ali Akbar dalam Buku Arkeologi Al-Qur’an)

Di antara 41 pembahasan yang disajikan Ali Akbar dalam Buku Arkeologi Al-Qur’an, terdapat satu tema yang layak direnungkan, terutama di penghujung tahun yaitu Dharma manusia kepada Allah SWT. Tema ini tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan tumbuh dari cara penulis membaca Al-Qur’an sebagai teks yang berdialog dengan pengalaman hidup manusia. Ali Akbar memulai pembahasannya dengan mengurai makna dharma, lalu mengarahkannya pada dua mandat utama yang menjadi fondasi keberadaan manusia menurut Al-Qur’an.[1]

Kontak

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Gedung Bayt Al-Qur`an & Museum Istiqlal
Jalan Raya TMII Pintu I Jakarta Timur 13560
Telp: (021) 8416468 - 8416466
Faks: (021) 8416468
Web: lajnah.kemenag.go.id
Email: lajnah@kemenag.go.id

Temukan Lokasi Kami

© 2025 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. All Rights Reserved