Ketelitian Menyebut Tokoh dalam Penafsiran Al-Qur’an: Pelajaran dari Catatan Gus Baha

Penafsiran Al-Qur’an selalu menjadi medan yang menuntut kehati-hatian. Para ulama sejak dahulu memahami bahwa menafsirkan firman Tuhan berarti memasuki wilayah makna yang sangat luas, sementara kemampuan manusia selalu terbatas. Itulah sebabnya Gus Baha[1] sering mengingatkan bahwa tafsir bisa saja mempersempit makna Al-Qur’an. Apa yang dipahami oleh seorang mufasir hanyalah salah satu sudut kecil dari keluasan makna ayat. Karena itu, kata beliau, penafsiran bisa saja salah, tetapi ayatnya sendiri tidak pernah salah.[2] Titik rawan kesalahan itu tidak mungkin berada pada teks suci, tetapi pasti terletak pada manusia yang menafsirkannya—baik karena kurang teliti, keliru membaca, atau hanya mengandalkan rujukan sekunder.

LPMQ dan Hari Guru Nasional: Sebuah Catatan Pemaknaan

Setiap kali kita memasuki tanggal 25 November, ada rasa hangat yang muncul: hari ini adalah hari kita menghormati mereka yang membentuk masa depan bangsa—para guru. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga karakter, penjaga nurani, sekaligus pembimbing langkah generasi yang akan menggantikan kita kelak. Dari ruang kelas yang kadang sederhana, dari suara yang lelah tetapi tetap sabar, lahir masa depan bangsa yang lebih baik.

Falyafrahū: Gus Baha’ Bercengkrama Hati ke Hati dengan Pegawai LPMQ

Ada satu momen mengesankan pada majelis FGD pegawai LPMQ dengan Gus Baha’, Sabtu (1/11/2025) selumbari. Yaitu ketika Gus Baha’ curhat tentang sikapnya yang dikenal sebagai ulama sederhana tapi tidak mudah diundang kemana-mana. Hal ini menjadi hikmah berharga bagi pegawai LPMQ.

Gus Baha’ mengawali dengan menjelaskan betapa dinamisnya kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial. “Manusia itu unik. Kepribadian, pemikiran dan kebiasaannya berbeda-beda, dan mereka menanggapi perbedaan itu dengan berbeda-beda pula.”

Identitas: Al-Qur’an dalam huruf Arab dan Latin terbitan Bahrul Ulum Jl. R Dewi Sartika No. 33 Bandung. 554 hlm. 15 baris tiap halaman, khat Bombay. Koleksi Pribadi.

Mushaf Al-Qur’an transliterasi ini terbit tahun 19 Oktober 1972. Sebagaimana tertuang pada surah pengesahannya. Boleh jadi proses penyusunannya berlangsung jauh sebelum tanggal tertera. Dapat dibanyangkan suasana batin penyusunannya ketika, pasca 1965, metode pembelajaran Al-Qur’an masih terbatas. Saat ini apakah sebaran pengguna ngaji Quran transliterasi masih banyak?

Mengenal Mushaful Ummah Turki

Beberapa tahun belakangan, para ulama Qur’an giat berkumpul di Turki. Mereka merencanakan gagasan besar tentang permushafan. Gagasan tersebut berupa pembuatan 20 master mushaf Al-Qur’an dari berbagai ragam qiraat. Bukan hanya itu, mushaf ini juga akan menggunakan dobt yang berbeda-beda tiap mushafnya. Mereka menamakannya Mushaful Ummah. Ini merupakan kelanjutan ikhtiar Turki dalam pengembangan kajian mushaf di era modern.

Kontak

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Gedung Bayt Al-Qur`an & Museum Istiqlal
Jalan Raya TMII Pintu I Jakarta Timur 13560
Telp: (021) 8416468 - 8416466
Faks: (021) 8416468
Web: lajnah.kemenag.go.id
Email: lajnah@kemenag.go.id

Temukan Lokasi Kami

© 2025 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. All Rights Reserved