- Ebin Rajab
- Hits: 359
Ketelitian Menyebut Tokoh dalam Penafsiran Al-Qur’an: Pelajaran dari Catatan Gus Baha
Penafsiran Al-Qur’an selalu menjadi medan yang menuntut kehati-hatian. Para ulama sejak dahulu memahami bahwa menafsirkan firman Tuhan berarti memasuki wilayah makna yang sangat luas, sementara kemampuan manusia selalu terbatas. Itulah sebabnya Gus Baha[1] sering mengingatkan bahwa tafsir bisa saja mempersempit makna Al-Qur’an. Apa yang dipahami oleh seorang mufasir hanyalah salah satu sudut kecil dari keluasan makna ayat. Karena itu, kata beliau, penafsiran bisa saja salah, tetapi ayatnya sendiri tidak pernah salah.[2] Titik rawan kesalahan itu tidak mungkin berada pada teks suci, tetapi pasti terletak pada manusia yang menafsirkannya—baik karena kurang teliti, keliru membaca, atau hanya mengandalkan rujukan sekunder.

