Bahasa Arab dan Al-Qur’an dalam Pandangan Imam Asy-Syafi‘i:  Telaah atas Kitab Ar-Risālah

Perdebatan tentang bahasa Al-Qur’an bukanlah isu pinggiran dalam khazanah keilmuan Islam klasik. Sejak masa-masa awal, telah muncul pertanyaan: apakah Al-Qur’an sepenuhnya berbahasa Arab, ataukah di dalamnya terdapat unsur-unsur non-Arab? Imam Asy-Syafi‘i (w. 204 H) tampil sebagai salah satu tokoh paling tegas dan sistematis dalam menjawab persoalan ini. Baginya, bahasa Arab bukan sekadar medium wahyu, melainkan kunci epistemologis untuk memahami agama itu sendiri. Pandangannya tentang bahasa Arab dan Al-Qur’an bukan hanya bersifat linguistik, tetapi juga teologis, metodologis, dan praktis.

Merawat Bumi, Merawat Iman: Gagasan Ekologis Gus Baha

Tulisan ini berangkat dari salah satu penjelasan Gus Baha dalam ceramahnya[1] ketika beliau menyinggung ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang bumi, air, tumbuhan, dan tanggung jawab manusia sebagai pengelola alam. Dengan gaya beliau yang khas: ringan, logis, tetapi sarat kedalaman, uraian Gus Baha menunjukkan bahwa isu lingkungan hidup bukanlah temuan modern, melainkan bagian dari pesan ilahi sejak wahyu pertama kali diturunkan. Artikel ini mencoba mengolah, merangkai, dan menarasikan ulang pemikiran beliau ke dalam bentuk tulisan, tanpa mengubah esensi gagasan yang disampaikan.

Ketelitian Menyebut Tokoh dalam Penafsiran Al-Qur’an: Pelajaran dari Catatan Gus Baha

Penafsiran Al-Qur’an selalu menjadi medan yang menuntut kehati-hatian. Para ulama sejak dahulu memahami bahwa menafsirkan firman Tuhan berarti memasuki wilayah makna yang sangat luas, sementara kemampuan manusia selalu terbatas. Itulah sebabnya Gus Baha[1] sering mengingatkan bahwa tafsir bisa saja mempersempit makna Al-Qur’an. Apa yang dipahami oleh seorang mufasir hanyalah salah satu sudut kecil dari keluasan makna ayat. Karena itu, kata beliau, penafsiran bisa saja salah, tetapi ayatnya sendiri tidak pernah salah.[2] Titik rawan kesalahan itu tidak mungkin berada pada teks suci, tetapi pasti terletak pada manusia yang menafsirkannya—baik karena kurang teliti, keliru membaca, atau hanya mengandalkan rujukan sekunder.

LPMQ dan Hari Guru Nasional: Sebuah Catatan Pemaknaan

Setiap kali kita memasuki tanggal 25 November, ada rasa hangat yang muncul: hari ini adalah hari kita menghormati mereka yang membentuk masa depan bangsa—para guru. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga karakter, penjaga nurani, sekaligus pembimbing langkah generasi yang akan menggantikan kita kelak. Dari ruang kelas yang kadang sederhana, dari suara yang lelah tetapi tetap sabar, lahir masa depan bangsa yang lebih baik.

Falyafrahū: Gus Baha’ Bercengkrama Hati ke Hati dengan Pegawai LPMQ

Ada satu momen mengesankan pada majelis FGD pegawai LPMQ dengan Gus Baha’, Sabtu (1/11/2025) selumbari. Yaitu ketika Gus Baha’ curhat tentang sikapnya yang dikenal sebagai ulama sederhana tapi tidak mudah diundang kemana-mana. Hal ini menjadi hikmah berharga bagi pegawai LPMQ.

Gus Baha’ mengawali dengan menjelaskan betapa dinamisnya kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial. “Manusia itu unik. Kepribadian, pemikiran dan kebiasaannya berbeda-beda, dan mereka menanggapi perbedaan itu dengan berbeda-beda pula.”

Kontak

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Gedung Bayt Al-Qur`an & Museum Istiqlal
Jalan Raya TMII Pintu I Jakarta Timur 13560
Telp: (021) 8416468 - 8416466
Faks: (021) 8416468
Web: lajnah.kemenag.go.id
Email: lajnah@kemenag.go.id

Temukan Lokasi Kami

© 2025 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. All Rights Reserved