Dalam dunia akademik Islam klasik, perbedaan ideologi sering kali menjadi tembok besar. Namun, Al-Suyuti (w. 1505 M), seorang raksasa intelektual Sunni, menunjukkan sikap yang berbeda melalui karyanya, Tabaqat al-Mufassirin.
Dalam kitabnya, al-Suyuti tetap memberikan ruang kehormatan bagi mufassir (ahli tafsir) dari kalangan Mu'tazilah dan Syiah di tengah kontestasi mazhab yang tajam.
Kitab Tabaqat al-Mufassirin tercatat sebagai karya pertama yang secara khusus menghimpun biografi para ahli tafsir dalam satu kitab tersendiri. Al-Suyuti menulis kitab ini karena merasa resah melihat kekosongan catatan sejarah ahli tafsir, padahal profil ahli hadis dan ahli fikih sudah terkodifikasi dengan baik. Meskipun ia wafat sebelum merampungkannya, kitab ini memuat sejumlah 136 profil mufassir. [1]
Salah satu hal yang paling menarik dari penulisan kitab ini adalah inklusivitas dari al-Suyuti. Ia mengategorikan ahli tafsir menjadi empat golongan:
- Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in
- Ahli hadis (tafsir bil ma'tsur)
- Ulama Ahlus Sunnah
- Ahlul Bid'ah (seperti Mu'tazilah dan Syiah)
Kendati menggunakan istilah "ahlul bid'ah" sesuai zamannya, al-Suyuti tetap mencantumkan delapan tokoh Mu'tazilah dan tiga tokoh Syiah. Ia pun tidak membedakan pola penulisan biografi mereka dengan tokoh Sunni lainnya.
Al-Suyuti tidak memandang sinis kontribusi intelektual di luar kelompoknya. Ia membangun otoritas tokoh non-Sunni berdasarkan tiga aspek objektif:
- Karya Nyata: Misalnya mengakui Tafsir al-Kashshaf karya al-Zamakhshari (Mu'tazilah) sebagai karya yang unggul dalam bidang bahasa dan sastra.
- Keahlian Khusus: Menekankan kepakaran tokoh dalam bidang kalam, bahasa, atau ulumul Qur'an.
- Testimoni Positif: Mengutip pujian ulama lain terhadap intelektualitas tokoh tersebut tanpa melihat latar belakang mazhabnya.
Sikap al-Suyuti mencerminkan nilai keadilan, moderasi (wasathiyah), dan toleransi. Al-Suyuti mengajarkan bahwa perbedaan akidah tidak seharusnya membuat kita menafikan kontribusi intelektual seseorang.
Jika al-Suyuti bisa bersikap adil terhadap perbedaan besar di ranah teologi (ushul), maka umat Islam saat ini seharusnya bisa lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan kecil di ranah praktik hukum (furu'iyyah).
Al-Suyuti membuktikan bahwa menjadi seorang Sunni yang teguh tidak menghalangi seseorang untuk bersikap adil dan mengakui kebenaran ilmiah dari pihak lain. Keteladanan ini menjadi sangat relevan di era modern untuk melawan fanatisme buta dan sikap eksklusivisme dalam beragama.
[1] Jalaluddin as-Suyuti, Tabaqat al-Mufassirin, (Beirut Lebanon: Daar al-Kutub al-Ilmiyah, 2019)

