Pernahkah membaca tafsir berbahasa Sunda dengan menggunakan bahasa yang akrab seperti obrolan sehari-hari? Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun karya Moh. E. Hasim hadir sebagai salah satu tafsir yang ditulis dengan bahasa Sunda yang akrab dan membumi.
Gaya bahasanya yang dekat dengan keseharian masyarakat Sunda, memudahkan pembaca awam untuk memahami isi kandungan Al- Qura’n tanpa harus bergantung pada tafsir berbahasa Arab atau Indonesia formal.
Tafsir ini merupakan tafsir berbahasa Sunda lengkap 30 juz, yang masih terus diproduksi hingga hari ini. Arti kata Lenyepaneun dalam bahasa Indonesia ialah "direnungkan". Secara keseluruhan Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun berarti merenungkan kandungan ayat- ayat suci Al Qur’an.
Moh. E. Hasim seorang ulama dari Jawa Barat tepatnya lahir di daerah Ciamis. Semasa muda dirinya seorang yang cakap berbahasa asing dan pernah menjadi pengajar bahasa di beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Bandung.
Selain menjadi guru, di era pascakemerdekaan Hasim aktif di beberapa organisasi militer seperti BARA, BKR dan TKR di Ciamis. Kemudian ia sempat diserahi tugas memimpin Persatuan Perjuangan Nasional.
Menariknya, Hasim justru mulai mempelajari bahasa Arab secara otodidak setelah memasuki masa pensiun. Pada usianya ke 70 tahun, ia mulai menulis kitab tafsir sebagai "hadiah" untuk dirinya sendiri.
Hasim mulai menyusun kitab tafsirnya ketika ulang tahunnya ke 70 sekitar tahun 1986 dan selesai ditulis lengkap 30 jilid dan didistribusikan pada tahun 1989. Dari proses inilah lahir Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun sebagai karya monumental yang menandai dedikasi intelektual dan spiritual Hasim di usia senja.
Penulisan tafsir ini dilatarbelakangi oleh beberapa alasan.
Pertama, keinginan kuat Hasim untuk menghadirkan tafsir Al- Quran berbahasa Sunda sebagai bentuk pelestarian budaya lokal. Baginya, bahasa daerah bukanlah penghalang untuk memahami Al-Qur’an, melainkan jembatan yang mendekatkan masyarakat dengan ajaran wahyu.
Kedua, sebagai bentuk ketidakpuasan Hasim terhadap sebagian penafsiran yang telah ada. Ia merasa bahwa tidak semua tafsir mampu menjawab permasalahan di masyarakat.
Ketiga, tafsir ini menjadi sarana bagi Hasim untuk menyampaikan keresahannya terhadap fenomena keberagamaan yang cenderung sekedar ikut-ikutan tanpa berusaha memahami sumber ajaran Islam secara mendalam.
Sistematika penulisan Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun mengikuti urutan surah sebagaimana dalam mushaf Utsmani. Setiap pembahasan diawali dengan terjemahan ayat, dilanjutkan dengan terjemah per kata, kemudian penafsiran secara lebih luas.
Secara metode tafsir, Hasim menggunakan pendekatan tafsir bi al-ra'yi dengan metode tahlili dengan berorientasi Sunni dan menitikberatkan corak adabi ijtima'i. Referensinya sesekali menggunakan asbabun nuzul dan hadis nabi.
Ciri khas tafsirnya terletak pada penggunaan bahasa dan sastra Sunda. Pada beberapa penjelasannya Hasim turut menyertakan babasan, paribasa dan keindahan alam pasundan. Kitab ini juga tercatat sebagai tafsir Sunda pertama yang lengkap 30 juz dan ditulis menggunakan aksara Latin.
Namun demikian, tafsir ini tidak luput dari beberapa kekurangan. Di sejumlah bagian, Hasim menggunakan ungkapan dan kosakata Sunda yang kini mulai jarang terdengar, sehingga memerlukan penyesuaian bagi pembaca generasi baru. Seperti kata "lingsem" (malu bercampur segan), "tapis" (pintar), atau "bubuhan" (tambahan/keterangan).
Selain itu, Hasim juga kerap menggunakan babasan seperti “ucang- ucang dina jugang” atau “ciga adat kakurung ku iga” yang kaya makna filosofis, tetapi tidak selalu mudah dipahami tanpa pemahaman budaya Sunda yang memadai. Kondisi ini membuat pembaca generasi sekarang memerlukan usaha lebih untuk menangkap maksud penafsiran secara utuh.
Selain itu, dalam upayanya menekankan relevansi kontekstual, beberapa penafsiran terkadang melebar dari inti makna ayat. Sehingga pada titik tertentu penafsiran tampak melebar dari inti konteks ayat. Penafsiran Hasim juga jarang disertai perbandingan dengan pendapat ulama atau mufasir lain, sehingga dialog antar-tafsir kurang terlihat.
Kesimpulan
Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun tetap merupakan karya penting dalam sejarah tafsir di Indonesia. Tafsir ini bukan hanya menjadi medium pemahaman Al-Qur’an, tetapi juga ruang pertemuan antara wahyu, budaya lokal, dan realitas sosial masyarakat Sunda. Bagi siapa pun yang tertarik pada studi tafsir Nusantara, karya Moh. E. Hasim layak mendapat perhatian serius.
Lihat
Jajang A. Rohmana, Sejarah Tafsir Al- Quran di Tatar Sunda, Mujahid Press: Bandung, 2014.
Moh. E. Hasim, Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun juz 2, Cetakan VI, Penerbit Pustaka: Bandung, 2006.

