Salah satu hal yang menarik dan menjadi daya tarik dalam kajian tafsir Nusantara, khususnya tafsir yang menggunakan bahasa daerah ialah bagaimana penafsiran Al- Quran dihadirkan melalui bahasa dan rasa budaya lokal.
Tafsir karya Moh. E. Hasim memiliki keunikan, yang mana tafsirnya bukan sekadar menerjemahkan ayat ke dalam bahasa Sunda, tetapi juga menyelipkan unsur tata krama bahasa, babasan, paribasa dan gambaran alam Pasundan yang akrab bagi masyarakat.
Istilah “babasan” dalam bahasa Indonesia berarti adalah ungkapan atau kalimat yang memiliki makna tersirat, sedangkan “paribasa” merupakan peribahasa atau kalimat yang memiliki arti perumpamaan dan nasihat hidup.
Sedikitnya terdapat tiga aspek nuansa budaya yang menjadi ciri khas dalam menafsirkan Al- Quran ke dalam bahasa Sunda,
Pertama, Tata krama bahasa merupakan sistem tingkatan tutur dalam bahasa Sunda menyangkut perbedaan- perbedaan yang harus digunakan dalam hal usia, kedudukan, pangkat, serta tingkat keakraban antara pembicara dan lawan bicara.
Terdapat dua kategori besar penggunaan ragam bahasa sunda saat ini, yaitu bahasa hormat (halus) dan loma (cenderung kasar/ kurang hormat) untuk diri sendiri maupun orang lain. Contoh sederhana diksi bahasa halus “aku” menjadi “abdi” sedangkan bahasa lomanya ialah “aing”.
Moh. E. Hasim dalam tafsirnya banyak dijumpai penggunaan tata krama bahasa hormat (halus) tetapi dijumpai pula dalam penafsirannya menggunakan bahasa sunda loma ketika menjelaskan ayat kisah.
Seperti Hasim ketika menafsirkan QS. Al- Lahab, Istri Abu Lahab dijelaskan menggunakan diksi “pamajikan” sebuah sebutan yang dalam konteks bahasa Sunda memiliki konotasi lebih kasar atau kurang hormat untuk menggambarkan karakter negatifnya.
Sebaliknya ketika menafsirkan QS. At- Tahrim ayat 10 menyebut istri nabi Lut yang durhaka dengan “geureuhna” kata yang dipilih Hasim dalam bahasa Sunda dengan nada yang lebih lemah lembut (bahasa halus) meskipun secara kontekstual tetap mengandung kritikan terhadap sikapnya.
Kedua, ungkapan tradisional seperti babasan dan paribasa. Salah satu contohnya terdapat pada penafsir QS. Al- Fatihah ayat 6-7 yang memberikan gambaran dengan sindir siloka (perlambang metafora) untuk memudahkan pembaca Sunda tentang siapa yang mendapat nikmat dan murkanya Allah.
Dalam menggambarkan kebahagiaan orang beriman, Hasim menggunakan ekspresi seperti “bagja kamayangan”, “bunga amarwatasuta” dan “kagunturan madu karagragan menyan putih”. Ketiga ungkapan tersebut tidak sekadar berarti bahagia, tetapi menggambarkan kebahagiaan yang tak terhingga menurut bahasa Sunda.
Sebaliknya, dalam menjelaskan penyesalan orang yang ingkar, ia menghadirkan gambaran yang kuat dan puitis seperti, ”beungeutna geuneuh maleukmeuk siga beusi atah beuleum” (wajahnya memerah seperti besi terbakar), “leleus lir ibarat tangkal ileus” (lemas seperti pohon layu) hingga “kaduhung awun-awunan hanjakal taya hinggana” (penyesalan tanpa batas”. Ungkapan- ungkapan ini bukan sekadar memperindah bahasa, tetapi memuat sindiran dan ajaran moral serta pandangan hidup masyarakat Sunda.
Ketiga, gambaran alam Sunda, adapun penafsirannya yang menggambarkan kesan diri Hasim ketika menyaksikan keindahan alam pegunungan dan pesisir Sunda. Hal ini ia sampaikan dalam menjelaskan kandungan dari QS. Ali Imran ayat 190, di mana Hasim menarasikan saat dirinya berada di daerah pegunungan.
“Basa sim kuring aya di dayeuh manggung, luak-lieuk ngalér-ngidul bari uleng mikiran kaéndahan alam… téténjoan téh badis siga alketip héjo botol ngampar… ditarétés mutiara pating kariceup, manahoréng ciibun kasorot ku srangéngé kakarék meleték.”
Deskripsi tersebut menggambarkan hamparan hijau berkilau oleh embun pagi yang tersorot matahari terbit. Keindahan visual ini diperkuat dengan citraan langit bersih dan gunung yang memerah kekuningan terkena cahaya surya. Alam tidak hanya menjadi latar, tetapi juga ruang refleksi batin yang mengantar pembaca pada kesadaran akan kebesaran Allah.
Kesimpulan
Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun karya Moh. E. Hasim memperlihatkan bahwa memahami Al-Qur’an bisa terasa sangat dekat ketika disampaikan lewat bahasa dan rasa yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Hasim tidak hanya menerjemahkan ayat ke dalam bahasa Sunda, tetapi juga menghadirkan tata krama tutur, babasan, paribasa, serta keindahan alam Pasundan yang hidup dalam pengalaman orang Sunda. Dari pilihan diksi yang halus maupun loma, ungkapan sindiran yang puitis, hingga gambaran gunung dan laut yang memukau, semuanya membuat tafsir ini terasa “nyunda” tanpa kehilangan pesan universalnya.
Lihat
Jajang A. Rohmana. “Memahami al-Qur’an dengan Kearifan Lokal: Nuansa Budaya Sunda dalam Tafsir al-Qur’an berbahasa Sunda”. Journal of Quran and Hadith Studies. 2014. Vol. 3. No. 1.
Jajang A. Rohmana. “Tafsir Al-Qur’an dari dan untuk Orang Sunda: Ayat Suci Lenyepaneun Karya Moh. E. Hasim (1916-2009)”. Journal of Qur'an and Hadith Studies. 2020. Vol. 9. No. 1.
Nabila Laraswati. “Karakteristik Kebahasaan Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun Karya Moh. E. Hasim: Analisis terhadap Karakter Perempuan dalam Alquran”. Skripsi UIN Sunan Gunung Djati. 2017.

