Mengapa kata جَزَاۤؤُهٗٓ dalam mushaf al-Qur’an ditulis berbeda dengan kaidah ejaan Arab yang kita kenal sekarang? Demikian pula lafaz seperti اَبْنَاۤؤُكُمْ, اَوْلِيَاۤؤُهٗٓ, atau مِنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ. Apakah bentuk penulisannya merupakan pengecualian, atau memang memiliki kaidah tersendiri?
Persoalan ini dibahas secara khusus oleh Imam Abu ‘Amr ad-Dānī (w. 444 H) dalam karya monumentalnya kitab al-Muqni’ fi Ma’rifah Marsum Maṣāḥif Ahlu al-Amṣār. Beliau mengkhususkan satu fashl untuk menjelaskan penulisan hamzah yang datang setelah alif dan bersambung dengan dhamir.
Pertama, hamzah mengikuti harakatnya, ad-Dānī memulai pembahasan dengan menjelaskan kaidah umum. Menurut beliau, bentuk penulisan hamzah mengikuti harakat yang menyertainya.
Apabila hamzah berharakat kasrah, maka hamzah ditulis dengan bentuk ya. Kaidah ini dapat dijumpai pada sejumlah lafaz al-Qur’an, seperti وَمِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ QS. al-An‘ām/6: 87, مِنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ QS. al-Baqarah/2: 226, QS. al-Mujadalah/58: 2, dan 3, اِلٰٓى اَوْلِيَاۤىِٕكُمْ QS. al-Ahzab/33:6, بِاٰبَاۤىِٕنَآQS. ad-Dukhan/44: 36, QS. al-jasiyah/45: 25, عَلٰٓى اَرْجَاۤىِٕهَاQS. al-Ḥāqqah/69: 17.
Sebaliknya, apabila hamzah berharakat dhammah, maka bentuknya mengikuti waw. Contohnya dapat ditemukan pada lafaz جَزَاؤُهُمْ QS. ali ’Imrān/3: 87, 136, QS. al-Isra/17: 98, al-Kahf/18: 106, al-Bayyinat/98: 8, اٰبَاۤؤُكُمْ, QS. an-Nisa/4: 11, 22, QS. al-An’am/6: 191, QS. al-A’raf/7: 71, QS. at-Taubah/9: 24, QS. Yusuf/12:40, QS. al-Anbiya/21: 54, QS. asy-Syu’ara/26: 76, QS. saba’/34: 43, QS. an-Najm/53: 23, Kemudian وَاَبْنَاۤؤُكُمْ pada QS. an-Nisā’/4: 11, 22, فَجَزَاۤؤُهٗ QS. an-Nisā’/4: 93, اَوْلِيَاۤؤُهٗٓ QS. al-Anfāl/8: 34, serta وَاَحِبَّاۤؤُهٗ QS. al-Maidah/5: 18.
Kedua, ada kalanya hamzah tidak memiliki “Surah/bentuk”. Ad-Dānī menjelaskan bahwa pada keadaan tertentu, khususnya ketika hamzah berharakat fathah sehingga jika ditulis akan menyebabkan berkumpulnya dua bentuk huruf yang sama, maka surah hamzah tidak lagi dituliskan.
Ad-Dani memberikan sejumlah contoh, di antaranya اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ pada QS. ali Imran/3:61, اَوْلِيَاۤءَهٗ QS. ali Imran/3: 175, QS. al-Anfal/8:34, فَمَنْ جَاۤءَهٗ QS. al-Baqarah/2: 275, اِسْرَاۤءِيْلَ (terdapata dalam 43 tempat) dari QS. al-Baqarah/2:40 hingga QS. ash-Shaff/61:14, وَّرَاۤءِيْ QS. Maryam/19: 5, شُرَكَاۤءِيَ Terdapat dalam QS. an-Nahl/16: 27, QS. al-Kahf/18: 52, QS. al-Qasas/28: 62, dan 74, serta QS. Fusshila/41: 47, جَاۤءُوْكُمْ pada QS. an-Nisa/4: 90, al-Maidah/5: 61, QS. al-Ahzab/33: 10. Serta lafaz يُرَاۤءُوْنَ pada QS. an-Nisa/4: 142, dan QS. al-Ma'un/107: 6.
Dengan demikian, penghilangan bentuk hamzah bukanlah tanpa alasan, melainkan mengikuti kaidah penulisan rasm yang telah dikenal oleh para ulama.
Ketiga, adanya khilaf riwayat Mushaf. Setelah menjelaskan kaidah umum, ad-Dānī menunjukkan bahwa ada beberapa lafaz yang memiliki riwayat penulisan berbeda pada mushaf-mushaf kuno (Mushaf Al-Qadimah).
Misalnya pada lafaz اَوْلِيَاۤؤُهٗٓ QS. al-Anfāl/8: 34, dan dalam QS. Yusuf/12: 74, dan 75 جَزَاۤؤُهٗٓ, ad-Dani mencatat berdasarkan kitab Hija as-Sunnah dan mushaf-mushaf kuuno pada umumnya, menuliskan lafaz tersebut tanpa huruf wawu.
Ad-Dani juga mencatat adanya perbedaan penulisan pada sebagian mushaf penduduk Irak, seperti pada lafaz اَوْلِيَاۤؤُهُمُ QS. al-Baqarah/2: 257, QS. al-An’am/6: 128, اَوْلِيَاۤىِٕهِمْ QS al-An’am/6: 121, اِلٰٓى اَوْلِيَاۤىِٕكُمْ QS. al-Ahzab/33: 6. Serta dalam QS. Fussilat/41: 31 اَوْلِيَاۤؤُكُمْ, yang dituliskan tanpa wawu, tanpa ya dan tanpa alif.
Catatan ini menunjukkan bahwa ilmu rasm tidak hanya berbicara tentang kaidah, tetapi juga memperhatikan riwayat penulisan yang diwariskan melalui mushaf-mushaf awal.
Keempat, pada penutup pembahasan, ad-Dānī membawakan sanad hingga Imam Nāfi’ mengenai penulisan lafaz جَزَاۤؤُهٗٓ pada Surah Yūsuf, yaitu pada ayat 74 dan dua kali pada ayat 75. Setelah itu beliau memberikan penjelasan yang menjadi inti dari pembahasan fashl ini.
Menurut ad-Dani, ketika ulama rasm mengatakan bahwa “gambar hamzah dihilangkan”, yang dimaksud bukanlah menghilangkan bacaan hamzah. Hamzah tetap dibaca secara jelas (taḥqīq), sedangkan yang dihilangkan hanyalah bentuk atau “surah” hamzah dalam tulisan.
Sebagaimana ditegaskan oleh ad-Dānī:
وَالْمُرَادُ بِحَذْفِ صُورَةِ الْهَمْزَةِ فِي ذَلِكَ وَنَظَائِرِهِ تَحْقِيقُهَا، لِاسْتِغْنَائِنَا بِهَا فِي تِلْكَ الْحَالِ عَنِ الصُّورَةِ
“Yang dimaksud dengan menghilangkan gambar hamzah pada kasus ini dan yang semisalnya adalah tetap membacanya secara jelas. Adapun bentuk penulisannya tidak lagi diperlukan dalam keadaan tersebut.”
Kesimpulan
Melalui pembahasan ini tampak bahwa setiap bentuk penulisan dalam mushaf Utsmani memiliki dasar yang jelas. Ad-Dānī tidak hanya menyampaikan kaidah, tetapi juga memperkuatnya dengan contoh-contoh ayat Al-Qur’an, menunjukkan adanya Khilaf riwayat pada mushaf-mushaf kuno, lalu menutupnya dengan sanad yang menjadi landasan penjelasannya. Karena itu, bentuk penulisan yang berbeda dari ejaan Arab modern bukanlah sebuah kekeliruan, melainkan bagian dari tradisi rasm usmani yang dijaga dan diwariskan oleh para ulama sejak generasi awal Islam.
-----
Abu Amr Utsman bin Sa’id Ad-Dani, Al-Muqni’ Fi Ma’rifati Marsum Mashahif Ahl Al-Amshar, ed. Bashir bin Hasan al-Himyari (Beirut: Dar al-Basya’ir al-Islamiyyah, 2015), jil. 2, h. 47-54.

