Jakarta— Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama Republik Indonesia menerima kunjungan ilmiah dari Ma’had Aly Darul Ulum Jombang dalam rangka penguatan pemahaman Al-Qur’an dan ilmu-ilmu pendukungnya. Kunjungan ini dilaksanakan dalam dua tahap, yakni kunjungan mahasantri putra dan kunjungan mahasantri putri, yang berlangsung di Lantai 4, Ruang Aula Syaikh Nawawi Al-Bantani, Gedung BQMI, Jakarta.
Kunjungan pertama dilaksanakan pada Selasa (27/1) dan diikuti oleh 21 mahasantri putra dengan tiga orang pendamping. Selanjutnya, kunjungan kedua dilaksanakan pada Kamis (29/1) yang diikuti oleh 35 mahasantri putri dengan lima orang pendamping.
Salah satu pendamping, Nurul Huda, menyampaikan bahwa kunjungan ilmiah ini merupakan bentuk ‘sowan’ ke LPMQ sekaligus upaya untuk memahami secara langsung metodologi yang digunakan dalam pentashihan mushaf Al-Qur’an.
“Kami ingin mengetahui bagaimana metode penentuan rasm, penempatan tanda waqaf, serta pemilihan font dan gaya tulisan mushaf, mengingat ketiga hal tersebut memiliki banyak ragam. Selain itu, kami juga ingin memahami bagaimana mekanisme kerja dalam menyusun dan membagi ayat-ayat Al-Qur’an yang jumlahnya sangat banyak,” ujarnya.
Ia berharap silaturahmi dan kerja sama keilmuan antara Ma’had Aly Darul Ulum Jombang dan LPMQ dapat terus berlanjut.
“Semoga silaturahim ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat berlanjut untuk menggali hal-hal yang bersifat keilmuan dan intelektual,” tambahnya.
Dalam kunjungan tersebut, para mahasantri mengikuti kuliah dengan materi “Menjaga Keotentikan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia: Standar Kredibilitas Pentashih dan Metodologi Rasm, Waqaf, serta Pentashihan.” Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman langsung mengenai proses pentashihan mushaf Al-Qur’an, standar penulisan mushaf, serta peran strategis LPMQ dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an di Indonesia.
Materi pertama disampaikan oleh Fahrur Rozi, pentashih mushaf Al-Qur’an LPMQ, yang membahas secara khusus tentang penandaan waqaf dalam mushaf Al-Qur’an. Ia mendorong para mahasantri untuk terus mengembangkan tradisi keilmuan melalui tulisan.
“Saya berharap para mahasantri dapat meneruskan tradisi menulis buku. Ilmu waqaf dan ibtida’ adalah ilmu yang setiap hari kita geluti, tetapi sering kali tidak kita sadari. Justru ketika terjun ke masyarakat dan menerima berbagai pertanyaan, barulah kita menyadari pentingnya ilmu ini,” ungkapnya.
Menurutnya, minimnya kajian tertulis menjadi salah satu latar belakang penulisan buku tentang waqaf.
“Ilmu ini belum banyak dibahas secara khusus, padahal sangat dekat dengan praktik membaca Al-Qur’an,” tambahnya.
Materi kedua disampaikan oleh Zainal Arifin, pentashih mushaf Al-Qur’an LPMQ, yang mengulas ilmu rasm dan dhabt dalam Mushaf Standar Indonesia serta Mushaf Madinah. Ia menjelaskan bahwa permushaafan Al-Qur’an dalam Islam secara umum terbagi menjadi tiga berdasarkan kajian kawasan dan perbedaan sistem dhabt.
“Pertama, mushaf dengan dhabt Masyariqah yang digunakan di Mesir, Libanon, dan Saudi Arabia. Kedua, mushaf dengan dhabt Magharibah yang digunakan di Maroko dan sekitarnya. Ketiga, mushaf dengan dhabt Asia-Anatolia yang digunakan di Indonesia, Pakistan dan Turki,” jelasnya.
Ia berharap para mahasantri memperoleh pemahaman yang utuh setelah mengikuti kunjungan ilmiah ini. “Saya berharap setelah penjelasan ini tidak ada lagi pemahaman yang keliru, dan para mahasantri dapat mengedukasi Masyarakat,” lanjutnya.
Melalui dua rangkaian kunjungan ilmiah ini, diharapkan para mahasantri Ma’had Aly Darul Ulum Jombang memperoleh wawasan yang komprehensif terkait praktik pentashihan mushaf Al-Qur’an serta mampu mengembangkan kajian keilmuan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

