Jakarta, 11 November 2025 - Dalam upaya memperkuat kompetensi mahasiswa magang di bidang permuseuman, Pamong Budaya Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI), Ibnu Athoillah, memberikan materi tentang inventarisasi koleksi museum kepada mahasiswa magang dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA). Kegiatan ini merupakan bagian dari program magang yang berlangsung sejak 15 Oktober hingga 15 Desember 2025, dan diikuti oleh tujuh mahasiswa.
Pembekalan yang dilaksanakan di lingkungan BQMI ini menjadi materi keempat dari rangkaian materi dan pelatihan yang telah dijadwalkan.
Dalam pemaparannya, Ibnu Athoillah menekankan bahwa pemberian materi ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan aspek teknis, tetapi juga memperkuat landasan teoretis mahasiswa terkait dunia permuseuman.
“Pemberian materi ini untuk menyiapkan mahasiswa dalam praktik melaksanakan tugas yang akan diberikan. Dengan materi yang sudah didapatkan, mahasiswa magang tidak hanya mengetahui teknis kerjanya, tetapi juga punya ilmunya,” ujar Athok.
Sementara itu, Nanda Amelia, salah satu mahasiswa magang yang mewakili peserta, menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan belajar langsung di BQMI.
“Kami merasa mendapat ilmu dan pengalaman baru. Proses inventarisasi bukan sekadar mencatat benda, tetapi juga bentuk tanggung jawab besar dalam menjaga warisan budaya dan peradaban Islam di Indonesia. Saya semakin paham peran dari register, kurator, preparator, edukator, hingga tim support yang semuanya saling bekerja sama memastikan koleksi aman, terdokumentasi, dan terpelihara dengan baik,” ungkap Nanda.
Menurutnya materi ini membuka wawasan tentang pekerjaan museum di balik yang tidak kelihatan oleh penunjung namun memiliki peran sangat penting dalam menyiapkan sebuah museum. Karena dengan materi ini diketahui bahwa penyimpanan koleksi museum tidak hanya sekedar ditaruh, melainkan ada proses registrasi, inventarisasi, kurasi dan lainnya.
“Materi ini membuat saya semakin menghargai upaya di balik layar museum, di mana ketelitian, kesabaran, dan kecintaan terhadap sejarah menjadi kunci utama. Kami beruntung dapat belajar di BQMI—sebuah tempat yang tidak hanya menyimpan benda bersejarah Islam, tetapi juga nilai spiritual dan intelektual yang mendalam,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, para mahasiswa diharapkan mampu memahami proses inventarisasi sebagai langkah fundamental dalam pengelolaan koleksi museum. Inventarisasi berfungsi sebagai dasar dokumentasi dan pelestarian benda bersejarah yang menjadi bagian dari warisan budaya Islam yang dikelola oleh BQMI.
Setelah sesi pembekalan, mahasiswa akan terjun langsung melakukan praktik inventarisasi koleksi BQMI. Mereka akan belajar mengidentifikasi, mencatat, serta mendokumentasikan setiap koleksi sesuai dengan prosedur profesional di dunia permuseuman. Hasil kegiatan tersebut nantinya akan menjadi bahan penting bagi BQMI dalam memperbarui data koleksi dan mendukung sistem informasi museum.
Program magang kolaboratif antara BQMI dan UNUSIA ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan praktis sekaligus memperluas wawasan akademik di bidang kebudayaan dan pelestarian cagar budaya. BQMI berkomitmen untuk terus membuka ruang pembelajaran yang aplikatif bagi generasi muda agar semakin peduli terhadap pelestarian warisan budaya bangsa.[Febi]

