Jakarta, 16 Oktober 2025 — Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama kembali menjadi tujuan rihlah ilmiah bagi para akademisi muda. Kali ini, sebanyak 28 mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bersama dua dosen pembimbing melakukan kunjungan dan audiensi ilmiah di Gedung Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta.
Rombongan UNIDA dipimpin oleh Dr. Ali Mahfudz Munawar dan Dr. (c) Nindiya Ayomi, M.Pd. Kunjungan mereka diterima langsung oleh tim LPMQ yang diwakili oleh H. Bagus Purnomo, M.A., dan Dr. Zainal Arifin Madzkur, M.A., dengan Muhammad Azhar Fuadi bertindak sebagai moderator acara.
Dalam sambutannya, Dr. Ali Mahfudz mengapresiasi kesempatan ini sebagai ruang belajar yang berharga bagi mahasiswa. “Melalui kunjungan ini, para mahasiswi diharapkan dapat memperoleh pemahaman mendalam dan inspirasi baru terkait tema-tema pokok dalam ulumul Qur’an yang bisa dikembangkan dalam tugas akhir mereka,” ungkapnya.
Sementara itu, H. Bagus Purnomo dalam paparannya menjelaskan kiprah LPMQ sebagai lembaga yang tidak hanya mengawal kesahihan mushaf Al-Qur’an, tetapi juga terus berinovasi menghadirkan layanan Al-Qur’an untuk semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. “Saya berharap ke depan lahir alumni Gontor yang bisa menghadirkan karya nyata bagi kelompok mustad’afin, tidak hanya mengangkat tema-tema langit, tetapi juga menyentuh persoalan nyata di sekitar kita,” ujarnya.
Pada sesi inti, Dr. Zainal Arifin Madzkur memaparkan tentang ragam kajian ulumul Qur’an yang menjadi dasar kerja keilmuan di LPMQ. Ia menjelaskan bahwa cabang ilmu Al-Qur’an dapat dikelompokkan menjadi lima rumpun besar, mulai dari ilmu yang membahas proses turunnya wahyu (ʿulūm tanzīlihi), cara membacanya (ʿulūm tartīlihi), pembukuannya (ʿulūm tadwīnihi), penafsirannya (ʿulūm taʾwīlihi), hingga kandungan maknanya (ʿulūm tadlīlihi).
“Dari kelima rumpun besar ini, kita bisa mengembangkan berbagai tema penelitian yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif,” jelas Zainal. Ia mencontohkan beberapa program konkret yang telah dikembangkan LPMQ, seperti kajian Asbābun Nuzūl, Makkiyah-Madaniyah, penyempurnaan Rasm Utsmani, serta penyusunan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an yang lebih inklusif.
Melalui kegiatan ini, para mahasiswi UNIDA Gontor diharapkan memperoleh wawasan baru mengenai luasnya cakupan ulumul Qur’an dan peran strategis lembaga pemerintah dalam mengawal otentisitas dan pemahaman Al-Qur’an di tengah masyarakat. “Ilmu-ilmu Al-Qur’an tidak akan pernah habis untuk dikaji dan ditulis. Justru dari sanalah peradaban ilmu Islam terus bertumbuh,” pungkas Zainal.

