Jakarta, 3 Desember 2025-Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap tanggal 3 Desember, Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal (BQMI) menerima kunjungan edukatif dari 100 siswa penyandang disabilitas netra dan rungu dari berbagai SLB di wilayah Jakarta dan Tangerang Selatan. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi LPMQ dengan ESQ Kemanusiaan dan diselenggarakan di Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI).
Kunjungan edukatif ini bertujuan memberikan pengalaman pembelajaran langsung bagi siswa Tunanetra dan Tunarungu terkait sejarah, kekayaan manuskrip, serta ragam mushaf Al-Qur’an yang tersimpan di Museum BQMI, termasuk Mushaf Al-Qur’an Braille dan Mushaf Al-Qur’an Isyarat. Kegiatan ini juga menjadi sarana inklusif untuk memberi ruang ekspresi bagi para siswa dalam menggali potensi dan kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an.
Setelah prosesi penyambutan dari BQMI, peserta dibagi menjadi dua kelompok tur museum.
Kelompok siswa Tunarungu dipandu oleh Muhammad Lutfi, sementara kelompok Tunanetra dipandu oleh Syaifuddin. Para siswa diajak menyusuri ruang pamer BQMI untuk mengenal sejarah penyalinan Al-Qur’an, ragam mushaf Nusantara, serta inovasi ramah disabilitas.
Perwakilan ESQ Kemanusiaan, Dewi Anjani, menjelaskan bahwa kolaborasi ini mengusung tema “Disabilitas Cinta Al-Qur’an”.
“Kami yakin bahwa apa pun yang Allah ciptakan tidak ada yang sia-sia, termasuk teman-teman disabilitas. Kami ingin kecintaan dan pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an semakin bertambah. Bagi teman-teman tunanetra, walaupun tidak dapat melihat mushaf secara visual, mereka dapat meletakkan Al-Qur’an di mata hati mereka. Sementara bagi teman-teman Tunarungu, meski tidak dapat mendengar lantunan ayat, mereka dapat mengekspresikan lantunan itu melalui isyarat tangan yang menyentuh hati dan jiwa,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Museum BQMI yang dinilai sangat ramah dan mendukung kebutuhan pengunjung disabilitas.
Sementara itu, Rama, Ketua Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI), menyampaikan bahwa kunjungan ini sangat berarti dalam memperkenalkan Al-Qur’an secara lebih dekat kepada komunitas Tuli.
“Kegiatan ini memberi inspirasi tentang sejarah dan perkembangan Al-Qur’an, agar generasi muda disabilitas dapat lebih mencintai dan dekat dengan Al-Qur’an. Harapannya, teman-teman Tuli semakin akrab dengan Al-Qur’an isyarat, bahkan mampu mempelajari dan mengajarkannya kembali,” kata Rama.
Ia juga berharap Museum BQMI dapat memasukkan penjelasan dasar tentang konsep Al-Qur’an, seperti siapa penulisnya dan bagaimana proses penyalinannya, untuk membantu pengunjung Tuli yang masih awam.
Kegiatan kunjungan edukatif ini menjadi wujud nyata komitmen BQMI dalam menyediakan layanan inklusif, khususnya bagi penyandang disabilitas, serta memperluas akses pemahaman Al-Qur’an bagi seluruh lapisan masyarakat.

