Jakarta, 3 Februari 2026 — Siswa kelas VII SMP Azhari Islamic School, Lebak Bulus, Jakarta, melakukan kunjungan edukatif ke Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal (BQMI) sekaligus mengikuti workshop Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Rombongan terdiri dari 30 siswa kelas VII yang didampingi oleh 4 orang guru. Dalam kunjungan ini, para siswa diajak berkeliling BQMI dengan didampingi pemandu yaitu Chaerul Ikhsan untuk melihat secara langsung koleksi museum serta memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, khususnya terkait sejarah penyebaran mushaf Al-Qur’an di Indonesia.
Setelah sesi tur museum, kegiatan dilanjutkan dengan menyaksikan film Air Dalam Prespektif Al-Qur'an dan Sains kemudian dilanjutkan dengan workshop Pentashihan Mushaf Al-Qur’an yang disampaikan oleh Dr. Fahrurozi, salah satu Pentashih di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ). Dalam workshop tersebut, siswa mendapatkan penjelasan mengenai pengertian Pentashihan Mushaf Al-Qur’an serta metode yang digunakan dalam proses pentashihan.
Para siswa juga diajak aktif dengan mempraktikkan langsung pentashihan terhadap beberapa surat dalam Juz 30, yakni dengan mencari kesalahan harakat atau tanda baca yang belum sesuai. Melalui metode praktik langsung ini, diharapkan siswa dapat lebih memahami dan memiliki gambaran tentang proses Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Fahrurozi menjelaskan bahwa seorang Pentashih harus merupakan hafiz Al-Qur’an 30 Juz, namun dalam melakukan pentashihan tidak boleh hanya mengandalkan hafalan.
“Pentashih memang disyaratkan hafal Al-Qur’an, tetapi cara mentashihnya jangan menggunakan hafalan. Jika hanya mengandalkan hafalan, bisa jadi tidak teliti atau ada yang terlewat. Akan berbahaya jika pentashih tidak hafal Al-Qur’an karena tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, baik huruf maupun harakat. Pentashih harus benar-benar fokus,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya ketekunan dalam membaca Al-Qur’an dan tidak mudah merasa bosan. Di tengah sesi workshop, salah satu siswa menanyakan tips menghafal Al-Qur’an agar hafalan tidak mudah lupa. Menanggapi hal tersebut, Fahrurozi menyarankan untuk rutin melakukan murajaah.
“Hafalan Al-Qur’an itu diibaratkan seperti binatang peliharaan. Jika tidak diikat, ia akan lari. Jika sudah diikat tetapi tidak diberi makan, maka akan mati. Begitulah hafalan, harus sering dipelihara dengan membaca berulang-ulang dan jangan bosan mengulang,” jelasnya.
Hamzah Anwar, selaku guru tahfidz SMP Azhari Islamic School, menyampaikan bahwa tujuan kunjungan ke BQMI sekaligus mengikuti workshop pentashihan adalah untuk mengenalkan kepada siswa bagaimana mushaf Al-Qur’an dapat sampai ke masyarakat dengan tulisan yang benar dan sesuai kaidah standar di Indonesia.
“Secara keseluruhan, mulai dari segi penyambutan hingga terlaksananya kegiatan sangat luar biasa, alhamdulillah. Kami mendapatkan fasilitas yang baik, pemandu yang informatif, serta pemateri yang sangat kompeten terkait pentashihan mushaf Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia juga memberikan saran agar BQMI menambah koleksi berbasis digital sehingga dapat semakin menarik minat masyarakat untuk berkunjung.

