Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama terus meningkatkan pelayanan terhadap Kitab Suci Al-Qur’an baik dalam pemahaman maupun ketersedian Mushaf Al-Qur’an yang terjaga kesahihannya. Salah satu upaya yang dilakukan dalam hal ini adalah peningkatan kualitas pentashihan dan bekerjasama dengan para penerbit Mushaf Al-Qur’an sebagai mitra LPMQ dalam memenuhi kebutuhan umat terhadap Al-Qur’an. Demikian yang disampaikan Deni Hudaeny MA sebagai Kepala Bidang Pentashihan.

Sejatinya seluruh kandungan ayat-ayat sucu Al-Qur’an adalah petunjuk; baik yang membahas akidah, syariat, akhlak, kisah-kisah, juga ayat-ayat tentang jihad, perang dan amar makruf nahi mungkar.

Namun cukup disayangkan, pada sebagian kalangan ayat-ayat tentang perang, jihad, dan amar makruf nahi mungkar banyak disalapahami maksudnya. Tidak saja oleh kalangan non-muslim, tetapi juga oleh sebagian orang Islam. Sebagian kalangan non-muslim menganggap ayat-ayat perang dan jihad—atau mereka sebut dengan istilah ayat-ayat pedang (sword verse)—adalah pemicu umat Islam memusuhi dan memerangi mereka. Muncul stigma negatif bahwa agama Islam adalah agama yang disebarkan dengan pedang, bukan agama penebar kasih sayang dan kedamaian. Sedangkan, oleh ‘sebagian umat Islam’ ayat-ayat tersebut beserta hadis-hadis terkait (perintah jihad dan perang) dijadikan sandaran bolehnya seseorang melakukan teror atau pun tindak kekerasan atas nama agama.

 

 

Dalam rangka penyelamatan manuskrip-manuskrip Nusantara, Erwin Dian Rosyidi, seorang kolektor dan pencinta manuskrip Nusantara menyerahkan sembilan manuskrip yang umurnya ratusan tahun. Penyerahan ini mengambil momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus dimaksudkan sebagai "Kado Kanjeng Rosul" sebagai ekspresi kecintaan terhadap Nabi Muhammad Saw.

Sembilan manuskrip yang disumbangkan terdiri dari enam mushaf Al-Qur'an, dan tiga manuskrip kitab. Terdapat dua mushaf kuno yang sangat indah, penuh taburan ornamen dan penanda ayat dengan tinta emas.

Dalam sambutannya, Erwin berharap agar gerakan penyelamatan manuskrip ini akan diikuti oleh masyarakat luas, mengingat banyaknya manuskrip di masyarakat yang kini sudah hancur dan sebagian dijual ke luar negeri, terutama ke negeri tetangga. “Manuskrip adalah peninggalan leluhur bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya,” lanjut Erwin.

Melalui momentum ini, dia juga mengharapkan agar pemerintah lebih meningkatkan perhatiannya terhadap keamanan dan kelestarian barang-barang langka tersebut.

Pihak Kementerian Agama diwakili oleh Saifuddin selaku Kepala Seksi Koleksi dan Pameran Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal, Jakarta. Dalam sambutan acara serah terima ia mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Erwin atas kepeduliaannya yang tinggi terhadap kelestarian manuskrip Nusantara. Selanjutnya, manuskrip-manuskrip ini akan dikonservasi dan digitalisasi terlebih dahulu sebelum dipamerkan di Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal.

Acara yang diselenggarakan di kediaman Erwin ini dihadiri dan disaksikan langsung oleh para kyai dari Surabaya dan Sidoarjo, di antaranya KH. Soleh Qosim, Katib Syuriah PCNU Sidoarjo, Ketua Rijalul Anshor PWNU Jatim, Ketua Jamiyatul Qurra wal Huffadh Sidoarjo, Ketua LTMNU Sidoarjo, dan sejumlah pengasuh pondok pesantren. (S)

 

Sebagai lembaga pemerintah yang otoritatif dalam mengawal Kitab Suci umat Islam, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI senantiasa meningkatkan kualitas layanan pentashihan dan pengawasan terhadap peredaran mushaf Al-Qur’an dari hulu hingga ke hilir. Tanggung jawab ini sangatlah berat, mengingat banyaknya penerbit yang mengajukan tashih dengan berbagai varian naskah mushaf.

Sebagai salah satu anjungan di lingkungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal (BQMI) senantiasa meningkatkan pelayanan baik dari penerimaan tamu maupun kualitas objek yang dipamerkan. Tidak heran jika BQMI selalu mendapatkan penghargaan dari manajemen TMII.