Jakarta – Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, museum yang dikelola di bawah Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, memperluas jaringannya dengan Dharma Wanita Persatuan dalam hari jadinya yang ke-29 pada Senin, 20 April 2026. Acara ini dihadiri oleh penasehat DWP, Helmi Nasaruddin Umar yang merupakan istri dari Menteri Agama serta mendapat gelar “Bunda Inklusi”.
Kehadiran Bunda Inklusi dalam momentum ini menjadi kesempatan emas bagi tim BQMI untuk memperkuat kerjasama dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP). Dimana DWP memiliki peran penting dalam mewujudkan kesetaraan hak pendidikan dan sosial, khususnya bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), dengan Bunda Inklusi sebagai penggerak utamanya. Hal ini juga dilakukan sejalan dengan salah satu program pengelolaan BQMI, yakni pengembangan jejaring dan kerjasama.
Dalam kesempatan ini, Helmi Nasaruddin Umar turut meninjau pembuatan kaligrafi oleh teman-teman disabilitas di ruang edukasi BQMI. Di tengah kegiatan, Bunda Inklusi menyampaikan harapannya agar ke depannya ada cabang perlombaan kaligrafi khusus disabilitas. Beliau juga turut memberikan semangat kepada para disabilitas agar terus berkarya dan memberikan motivasi dan apresiasi bahwa hasil karya kaligrafi yang dibuat para penyandang disabilitas di BQMI dapat dipamerkan pada kegiatan yang lebih besar bersama kementerian lainnya.
“Melihat keindahan Al-Qur’an yang dirangkai oleh tangan anak-anak berkebutuhan khusus hari ini, mengingatkan bahwa Al-Qur’an begitu dekat dengan kita tanpa memandang siapapun,” ungkap Helmi dalam sambutannya. Tak lupa beliau berpesan agar terus mengabarkan pada masyarakat luas Mushaf Al-Qur’an Isyarat yang dibuatkan
Beliau juga menekankan pentingnya peran DWP khususnya dalam mendukung literasi keluarga, memperkenalkan nilai-nilai Al-Qur'an kepada generasi muda serta menjadi agen perubahan lingkungan masing-masing.
“DWP siap membantu untuk menyebarluaskan berbagai publikasi terkait Al-Qur’an agar manfaatnya terasa lebih luas oleh umat dan bangsa,” tegasnya.
Menjelang tiga dekade, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal mengusung tema “Transformasi Digital dan Inklusivitas”. Dimas, salah seorang tim BQMI, memaparkan, tema yang diangkat sejalan dengan definisi museum yang dicetuskan oleh International Council of Museum (ICOM) pada tahun 2022, yakni museum di era baru tidak hanya menampilkan pajangan atau koleksi, melainkan memberikan enjoyment (kesenangan) dan experience (pengalaman) kepada pengunjung.
Dalam hal ini, tim BQMI menginterpretasikan bahwa pemenuhan kedua unsur tersebut dapat dilakukan dengan upaya digitalisasi museum, sehingga transformasi digital menjadi tema yang diangkat dalam peringatan 29 tahun BQMI.
“Meski tidak secara eksplisit disebutkan bahwa enjoyment dan experience ini mesti diwujudkan dalam bentuk digital, tetapi kami menginterpretasikannya dengan transformasi digital yang baru saja kita mulai. Digitalisasi itu bukan sekedar mengubah menjadi serba komputer, karena itu hanyalah alat yang digunakan sesuai konsep yang dirancang untuk memberikan edukasi dan entertainment,” lanjut Dimas.
Lain halnya dengan tema inklusivitas, kata tersebut memang disebutkan secara gamblang oleh ICOM bahwa museum harus mudah diakses oleh seluruh kalangan. Tak hanya dalam tata pamer, akses jalan dan sarana prasarana lainnya
Dimas menambahkan bahwa inklusivitas tidak hanya terbatas pada pelayanan pengunjung disabilitas, tetapi inklusivitas museum juga mencakup pelayanan pengunjung yang datang dari berbagai belahan dunia.
“Dengan luasnya cakupan DWP di Kementerian Agama, diharapkan semakin banyak yang akan mengenal BQMI dan saya berharap ke depannya BQMI dan DWP dapat mengadakan kolaborasi,” pungkasnya.

