Jakarta, 12 November 2025 — Sebanyak 40 mahasantri dan 3 musyrif dari Pesantren Teknologi Informasi dan Komunikasi (PeTIK) Depok melakukan kunjungan edukatif ke Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama, Rabu (12/11/2025). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Audio Vidual Gedung Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, TMII, Jakarta Timur, ini berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB dengan mengusung tema “Peran Digital Dalam Membumikan Al-Qur’an Sebagai Spirit Integritas Santri Dalam Memajukan Perkembangan Zaman.”
Melalui kegiatan ini, para santri diajak untuk melihat langsung bagaimana inovasi digital dapat menjadi sarana efektif dalam penyebaran nilai-nilai Al-Qur’an di era modern. Muhammad Zamroni, narasumber dari LPMQ, menyampaikan materi bertajuk “Peran LPMQ Dalam Upaya Membumikan Al-Qur’an Melalui Media Digital.” Ia menjelaskan bahwa LPMQ berkomitmen mengembangkan berbagai inovasi digital yang mempermudah masyarakat mengakses, membaca, dan memahami Al-Qur’an.
“LPMQ menghadirkan aplikasi Qur’an Kemenag yang dilengkapi dengan berbagai fitur, di antaranya Qur’an Isyarat bagi penyandang disabilitas rungu dan Qur’an Kemenag in Word yang memudahkan penginputan ayat Al-Qur’an ke dalam naskah secara akurat,” ujar Zamrony.
Ia juga menambahkan bahwa digitalisasi Al-Qur’an bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan bagian dari ikhtiar dakwah agar nilai-nilai Al-Qur’an semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. “Melalui media digital, pesan-pesan ilahi bisa dihadirkan secara lebih luas, lebih mudah, dan lebih inklusif. Semua lapisan masyarakat kini bisa belajar dan berinteraksi dengan Al-Qur’an di manapun mereka berada,” jelasnya.
Selain Zamrony, Bagus Purnomo turut menjadi narasumber dalam kegiatan ini dengan materi berjudul “Peran Digital Membumikan Al-Qur’an: Spirit Integritas Santri dalam Memajukan Zaman.” Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa santri masa kini memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi pionir peradaban digital yang berakhlak Qurani.
“Santri tidak lagi hanya berperan sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga sebagai kreator dan inovator di dunia digital. Era digital membuka peluang dakwah yang begitu luas — mulai dari media sosial, podcast, video pendek, hingga platform edukatif berbasis Qurani,” ungkap Bagus.
Menurutnya, tantangan besar yang dihadapi saat ini adalah derasnya arus informasi dan disinformasi di ruang digital yang dapat memengaruhi cara berpikir dan berperilaku generasi muda. Oleh karena itu, santri dituntut untuk memiliki integritas digital — keselarasan antara ilmu, amal, dan akhlak — agar mampu menjadi penyeimbang dan pembawa pencerahan di tengah kemajuan teknologi.
Bagus juga mengutip pesan Al-Qur’an dalam QS. Al-Isra’: 36 sebagai pedoman bagi generasi digital: “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” Menurutnya, ayat ini menjadi dasar etika bermedia dan tanggung jawab intelektual bagi setiap santri.
“Integritas santri di dunia digital terlihat dari kejujuran dalam menyebarkan informasi, kehati-hatian dalam berkomentar, serta kemampuan untuk memproduksi konten yang inspiratif dan mencerahkan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bagus menekankan bahwa santri harus mampu menjadi agen perubahan digital. Dengan bekal ilmu, akhlak, dan semangat Qurani, santri diharapkan dapat menciptakan karya digital yang bernilai dakwah dan edukatif. “Santri harus bisa menjadi bagian dari solusi — bukan hanya penonton di tengah revolusi teknologi. Dunia digital adalah ladang dakwah baru yang menuntut kreativitas sekaligus ketulusan,” ujarnya.
Acara kemudian ditutup dengan pesan inspiratif agar para santri menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas moral dalam setiap aktivitas digital. “Integritas bukan sekadar menjaga nama baik, tetapi menjaga cahaya Al-Qur’an agar tetap hidup dalam tindakan dan perilaku sehari-hari,” pungkas Bagus.
Di akhir kegiatan, gema tagline “Santri Digital — Berakhlak Qurani, Beraksi untuk Negeri” menggema di ruang Audio Visual, menjadi penegas semangat baru bahwa dakwah dan integritas santri kini juga hadir di ruang digital.

