Tim Sekretariat Penyempurnaan Tafsir Kementerian Agama dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an melakukan kunjungan kerja ke pesantren pengasuh KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha di Narukan, Jawa Tengah, Sabtu (16/5/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk menginput berbagai masukan dan koreksi yang diberikan Gus Baha terhadap Tafsir Tahlili Kementerian Agama.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 16.30 WIB itu menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan tafsir resmi Kementerian Agama. Dalam kapasitasnya sebagai salah satu tim pakar penyempurnaan tafsir, Gus Baha menelaah 3 jilid sekaligus, yakni mulai juz 19 hingga juz 27.
Sebanyak 15 orang tim sekretariat hadir dalam kegiatan tersebut. Turut mendampingi, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), Abdul Aziz Sidqi. Ia menyampaikan apresiasi atas ketelitian dan kesungguhan Gus Baha dalam memberikan masukan.
“Apa yang dilakukan Gus Baha adalah sesuatu yang sangat berharga. Sangat detail dan teliti. Ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam memberikan masukan untuk penyempurnaan tafsir Kemenag. Kami sangat berterima kasih,” ujar Aziz.
Dalam setiap jilid, Gus Baha rata-rata memberikan sekitar 100 catatan koreksi. Masukan tersebut mencakup perbaikan redaksi, pilihan diksi, kutipan ayat Al-Qur’an, koreksi tanda baca hadis, qaul ulama, hingga substansi penafsiran.
Salah satu catatan penting yang disampaikan berkaitan dengan penjelasan waktu salat Asar. Dalam draft tafsir sebelumnya disebutkan bahwa waktu Asar dimulai ketika bayangan suatu benda sama dengan bendanya atau “zillu syai’ mitslahu”. Menurut Gus Baha, redaksi tersebut perlu disempurnakan menjadi “zillu syai’i mitslahu wa ziyadah”, yakni ketika bayangan benda sudah melebihi ukuran bendanya.
“Kalau masih seperti bendanya, itu masih masuk waktu Zuhur,” terang Gus Baha.
Selain itu, ia juga memberikan penekanan pada pembedaan konteks kisah Nabi Musa AS. Menurutnya, perjalanan Nabi Musa ke Palestina dan ke Madyan tidak boleh dipahami dalam konteks yang sama.
“Ketika Musa ke Palestina, itu setelah mengalahkan Firaun. Sedangkan ke Madyan terjadi saat beliau dikejar Firaun,” jelasnya.
Tak hanya soal sejarah kenabian, Gus Baha juga menyoroti pemaknaan sejumlah diksi dalam Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa kata “muttakiina” lazim digunakan untuk menggambarkan ahli surga yang duduk santai tanpa beban, berbeda dengan istilah “jalis” yang sekadar menunjukkan posisi duduk, baik dalam keadaan nyaman maupun tertekan.
Penjelasan menarik lainnya disampaikan terkait penggunaan kata “tara” dalam Al-Qur’an. Menurut Gus Baha, kata tersebut sering dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang tampak secara kasat mata, namun hakikatnya tidak demikian.
Ia mencontohkan ayat tentang matahari dalam Surah Al-Kahfi, “wa tara syamsa idza thala’at… wa idza gharabat”. Menurutnya, tenggelamnya matahari bukan berarti matahari berhenti bersinar, melainkan hanya tampak redup dari sudut pandang manusia.
“Begitu pula dalam ayat ‘wa taral jibala tahsabuha jamidatan wahiya tamurru marra sahab’, gunung terlihat diam padahal sebenarnya bergerak,” paparnya.
Hingga saat ini, Gus Baha tinggal menyelesaikan satu jilid lagi, yakni jilid 10, dalam tugasnya sebagai tim pakar penyempurnaan Tafsir Kementerian Agama. Rencananya, proses penginputan masukan untuk jilid terakhir tersebut akan dilaksanakan di Pesantren Bayt Al-Qur’an, Tangerang Selatan, Banten, meski jadwal pelaksanaannya masih menunggu informasi dari Gus Baha.

