AMIKA TMII, AMIDA Jawa Barat, dan Paramita Jaya menggelar pertemuan silaturahmi di BQMI, LPMQ, Jakarta, Sabtu (15/8/2026). Pertemuan tersebut membahas sejumlah strategi penguatan permuseuman, mulai dari standardisasi dan sertifikasi, peningkatan kompetensi SDM, hingga persiapan Hari Museum Indonesia (Harmusindo) pada Oktober 2026.
Ketua AMIKA TMII sekaligus Kepala LPMQ, Abdul Aziz Sidqi, menilai pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi sebelumnya dan perlu diarahkan pada langkah teknis serta program konkret. Ia mengatakan, “Pertemuan kali ini diharapkan dapat membahas secara teknis bagaimana kita menghadap Menteri Kebudayaan untuk membicarakan mengenai dukungan terhadap museum, sekaligus meminta masukan dari bapak-bapak sekalian.” Aziz juga berharap kolaborasi ketiga organisasi dapat menghasilkan program Harmusindo yang mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan.
Direktur Operasional TMII, Dede Noviardi, menyampaikan dukungan terhadap penguatan museum sebagai sarana pelestarian budaya dan edukasi masyarakat. Menurutnya, museum dan anjungan merupakan bagian penting dari ekosistem TMII yang harus terus dikembangkan. Ia berharap museum mampu memberikan pengalaman yang lebih menarik bagi pengunjung. “Harapan saya, orang datang ke museum bisa seperti ketika mengunjungi museum di luar negeri: takjub, menikmati, sekaligus mendapatkan pengalaman edukasi. Kami sangat siap mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Ketua Paramita Jaya, Yiyok T Herlambang, menekankan perlunya membangun citra museum yang lebih modern dan dekat dengan masyarakat. Ia menilai masih ada anggapan bahwa museum merupakan tempat yang kuno sehingga pengelola harus terus berinovasi. “Masih banyak yang beranggapan museum itu kuno. Padahal museum harus terus mengikuti perkembangan zaman dan menjadi sesuatu yang diminati serta dinikmati masyarakat,” katanya. Yiyok juga menyatakan kesiapan Paramita Jaya mendukung pameran, pelatihan, bimbingan teknis, serta proses standardisasi dan sertifikasi museum. Ia menegaskan, “Minimal museum harus mencapai tipe B. Seorang edukator dan kurator minimal harus dimiliki oleh setiap museum.”
Koordinator Museum TMII, Probo Agesta Haritskawa, turut menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi dan sertifikasi profesi bagi SDM museum. Ia menyampaikan bahwa TMII masih memiliki kerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan berharap AMIKA dapat membantu memperkuat program standardisasi tersebut.
Sementara itu, Ketua AMIDA Jawa Barat, Erwin Hendarwin, menyatakan kesiapan melibatkan museum-museum di Jawa Barat dalam program kolaborasi, termasuk Museum Prabu Siliwangi yang berpotensi menghadirkan atraksi budaya bola api.
Dalam pembahasan Harmusindo, para peserta sepakat bahwa waktu persiapan yang semakin dekat membutuhkan koordinasi cepat dengan AMI (Asosiasi Museum Indonesia) Pusat dan Kementerian Kebudayaan. Kegiatan diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi diisi pameran, edukasi, pelatihan, serta kolaborasi antarmuseum.

