Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal (BQMI) kembali menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis (bimtek) bagi volunteer pemandu museum Batch 2. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 26 Januari 2026, bertempat di Ruang Edukasi Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, mulai pukul 09.00 WIB hingga 14.30 WIB.
Kegiatan Bimtek dimulai dengan sambutan oleh dari Ketua Tim Pengelola Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Liza Mahzumah dan dimoderatori oleh Ida Fitriani. Dalam sambutannya, Liza menyampaikan apresiasi atas antusiasme para peserta yang mengikuti bimbingan teknis (bimtek) pemandu museum BQMI.
“Kami mengucapkan terima kasih atas antusiasme teman-teman dalam mengikuti bimtek volunteer pemandu Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal. Perlu diketahui bahwa BQMI merupakan satu-satunya museum yang dikelola oleh Kementerian Agama Republik Indonesia serta satu-satunya museum bernuansa Islam di kawasan TMII. Tugas pemanduan ini sangat bermanfaat, selain menjadi tambahan indikator kinerja, kegiatan ini juga dapat menambah wawasan bagi teman-teman,” ujarnya.
Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi materi mengenai story line Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal serta materi kepemanduan museum. Sesi pertama disampaikan oleh Kurator BQMI, Adimas Bayumurti. Dalam paparannya, Adimas atau yang akrab disapa Kak Adimas menjelaskan tentang story line Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal.
Pada sesi story line, dijelaskan definisi museum menurut berbagai tokoh. Salah satunya pandangan Andrea Hauenschild (1988) yang membagi museum ke dalam dua paradigma, yaitu museum tradisional yang berfokus pada pelestarian koleksi, serta museum modern yang berfungsi sebagai sarana edukasi masyarakat melalui penguatan identitas guna mendorong pengembangan sosial ke arah yang lebih baik.
Selain itu, disampaikan pula pandangan Noerhadi Magetsari (2016) yang menyebutkan bahwa konteks museum dapat dipahami melalui koleksi benda yang mengungkap makna tertentu maupun melalui narasi yang menampilkan konsep identitas dan akar budaya. Museum juga dimaknai sebagai simbol, representasi, dan penanda historis dari benda-benda yang dipamerkan.
Kak Adimas turut menjelaskan fungsi dasar museum, yakni sebagai sarana presentasi (pelestarian fisik koleksi), research (kajian ilmiah), serta communication yang diwujudkan melalui publikasi dan pameran untuk menyampaikan nilai koleksi kepada masyarakat.
“Saat memandu, teman-teman perlu melakukan improvisasi di lapangan. Penyampaian tidak harus selalu sama persis dengan teks yang ada di museum, karena audiensnya berbeda-beda. Setiap koleksi memiliki makna yang bisa dieksplorasi. Yang terpenting, pemandu harus mampu menggali makna koleksi dan menyampaikannya melalui narasi yang membangun konsep identitas,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun mayoritas pengunjung datang untuk melihat mushaf, hal utama yang ingin disampaikan adalah cerita di balik setiap mushaf tersebut.
“Subjek tata pamer bukan hanya koleksi, tetapi juga narasi yang dibangun dari koleksi itu sendiri,” tambahnya.
Lebih lanjut, dipaparkan mengenai story line Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal. Bayt Al-Qur’an berfokus pada penghimpunan sejarah Al-Qur’an, sejarah mushaf, serta perkembangan khazanah Al-Qur’an mulai dari penulisan dengan qalam hingga menjadi mushaf. Sementara itu, Museum Istiqlal menampilkan hasil budaya dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an, seperti masuknya Islam di Nusantara, dakwah Islam di Jawa, arsitektur masjid kuno, manuskrip keagamaan Islam, hingga kaligrafi batik sebagai bentuk harmonisasi beragama dan berbudaya.
Sesi kedua dilanjutkan dengan materi kepemanduan museum yang disampaikan oleh Ibnu A’thoillah, yang akrab disapa Kak Athok. Dalam materinya, ia menjelaskan bahwa pemandu museum secara umum juga dikenal sebagai Edukator Museum sesuai Standar Kompetensi Nasional Indonesia melalui Sertifikasi Kompetensi Kepemanduan Museum dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi.
“Pemandu museum bertugas memberikan informasi, dan menjelaskan tentang koleksi serta pameran kepada pengunjung agar pengalaman edukatif mereka lebih mendalam. Pemandu tidak hanya bercerita, tetapi harus mampu mengontekstualisasikan koleksi yang dipamerkan. Komunikasi yang dibangun juga harus dua arah,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa citra museum sangat ditentukan oleh kualitas pemandu. Selain tata pamer dan koleksi, pemandu menjadi representasi wajah museum, mulai dari wawasan, cara penyampaian, hingga relevansi informasi yang diberikan kepada pengunjung.
Kak Athok juga memaparkan tugas utama pemandu museum, di antaranya menjelaskan koleksi secara akurat, menyesuaikan bahasa dengan audiens, menjaga etika dan aturan museum, serta menjawab pertanyaan pengunjung. Selain itu, peserta dibekali materi mengenai kompetensi, etika, serta teknik pemanduan, lengkap dengan tips dan trik agar pemanduan museum lebih menarik dan informatif.
"Sebagai pemandu harus tau sejarah museum, berliterasi, berkomunikasi dan membangun narasi yang menarik agar pengunjung tidak bosan, serta juga bisa membedakan koleksi yang bisa disentuh atau tidak"
Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan menyimak seluruh materi secara seksama.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal dasar bagi para volunteer pemandu agar pelaksanaan pemanduan di BQMI ke depannya dapat berjalan lebih interaktif, komunikatif, dan edukatif.
Sebagai penutup, peserta diajak berkeliling museum untuk mendapatkan gambaran langsung serta praktik pemanduan di lapangan yang dipandu oleh Syaifudin.

