Ada anggapan membuat kaligrafi itu susah. Akan tetapi di era digital saat ini, membuat kaligrafi jadi lebih mudah. Peluang menghasilkan uang terbuka lebar bagi siapa saja yang mau belajar ngulik kaligrafi digital. Inilah yang disampaikan oleh edukator BQMI (Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal), Syaifuddin, kepada sekitar 150 siswa-siswi MAN 1 Lamongan yang mengikuti Workshop & Lomba Kaligrafi Digital di Lamongan Museum Expo 2025, Rabu, 24 September.
“Kaligrafi asalnya adalah seni yang membutuhkan keahlian. Bagi yang tertarik pada seni kaligrafi tapi merasa kurang berbakat tidak perlu kecil hati, karena sekarang ada kaligrafi digital, bisa dibuat dengan aplikasi,” ujar Syaifuddin. Pria yang akrab dipanggil Pak Udin ini juga menekankan, untuk menjadi kaligrafer yang terpenting adalah minat dan kecintaan pada keindahan kaligrafi, karena tanpa keduanya akan sulit menghasilkan kaligrafi yang indah dan benar, meskipun dibuat melalui aplikasi.
Pada era di mana kehadiran gawai telah menjadi bagian dari keseharian, inovasi kaligrafi sebagai karya digital menjadi tak terelakkan. “Kami melihat kaligrafi digital semacam anak tangga untuk mendekatkan kaligrafi pada generasi muda. Mudah-mudahan dari situ tumbuh kecintaan dan minat untuk menggeluti kaligrafi lebih jauh lagi, misalnya untuk belajar kaligrafi tulis tangan, sehingga khazanah kaligrafi terus lestari,” tutur Liza Mahzumah, koordinator delegasi BQMI yang ditugaskan di Lamongan Museum Expo 2025.
Workshop & Lomba Kaligrafi Digital dari BQMI menjadi bagian dari rangkaian program publik (program edukasi) di Lamongan Museum Expo 2025. Selain workshop ini, juga digelar seminar, lomba pentas seni, dan lomba menggambar. Diselenggarakan di Lamongan Sport Center sejak Senin, 23 September, Expo ditutup pada Rabu, 25 September pukul 14.00 WIB.

