Jakarta — Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) melalui Forum Diskusi Mushaf (FDM) bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) menyelenggarakan kegiatan Workshop Filologi Manuskrip Islam Nusantara. Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gatot Subroto, Jakarta.
Workshop ini merupakan hasil inisiasi anggota Forum Diskusi Mushaf (FDM) dan dirancang dalam empat kali pertemuan. Pertemuan pertama telah dilaksanakan pada 14 Januari 2026, disusul pertemuan kedua pada 21 Januari 2026, dan pertemuan ketiga pada 28 Januari 2026. Seluruh pertemuan dilaksanakan pada pukul 09.30–12.00 WIB (selesai). Pada pertemuan ketiga ini, materi ke-3 dan ke-4 digabungkan, sehingga pada pertemuan keempat nantinya diharapkan peserta dapat menyunting satu naskah secara utuh.
Materi pertama workshop disampaikan oleh Dr. Alfan Firmanto, M.Si., dengan topik Pengantar Kodikologi Manuskrip Islam Nusantara. Sementara itu, materi kedua mengenai Teori Penyuntingan Naskah disampaikan oleh Ketua Umum Manassa, Dr. Agus Iswanto, S.S., M.A. Hum. Penyampaian materi berlangsung dinamis dan mendapat respons aktif dari peserta, yang terlihat dari intensitas diskusi selama kegiatan berlangsung.
Materi ketiga dan keempat berfokus pada praktik penyuntingan naskah. Praktik penyuntingan Naskah 1 dipandu oleh Dr. Asep Saifullah, M.Ag., sedangkan praktik penyuntingan Naskah 2 disampaikan oleh Arif Syibromalisi, Lc., M.Hum. Pada sesi ini, peserta tidak hanya menerima pemaparan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan penyuntingan teks naskah dengan pendampingan langsung dari para pemateri.
Workshop ini diikuti sekitar 30 peserta yang mayoritas berasal dari pegawai LPMQ. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh peserta dari Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ), Balai Diklat Keagamaan (BDK) Jakarta, Universitas Indonesia (UI), serta para peneliti dari lingkungan BRIN.
Inisiator sekaligus pendiri Forum Diskusi Mushaf, Abdul Hakim, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya literasi pegawai, khususnya dalam bidang pernaskahan dan filologi. “Kesempatan belajar langsung dari para pemateri utama seperti ini jangan sampai disia-siakan. Harus dimanfaatkan secara maksimal, terlebih kegiatan ini juga telah mendapatkan apresiasi dari Kepala LPMQ, Bapak Abdul Aziz Sidqi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum Manassa, Agus Iswanto (ditemui setelah acara), menilai kegiatan ini sangat relevan dengan tugas dan fungsi LPMQ. “Workshop ini penting untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana melakukan penelitian naskah atau manuskrip keislaman dengan metode tahqīq. Dalam tugasnya, LPMQ akan banyak bersinggungan dengan karya-karya ulama dan teks-teks keislaman, yang tentu membutuhkan ilmu bantu filologi,” jelasnya. Ia berharap ke depan kegiatan serupa dapat dilanjutkan dan ditingkatkan. “Harapannya, kegiatan ini bisa berlanjut untuk mematangkan pengetahuan yang sudah diberikan sekaligus meregenerasi peserta lainnya,” pungkasnya.

