Mushaf Al-Qur’an Akbar ke-10 Siap Diboyong ke Istana

Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo belum lama ini telah menyelesaikan penulisan mushaf Al-Qur’an Akbar yang ke-10. Pertengahan tahun ini rencananya akan dihadiahkan kepada Presiden Jokowi melalui koordinasi Kementerian Agama. Mushaf ini  berukuran 150 x 200 cm dalam keadaan tertutup, dan jika dibuka, maka lebarnya menjadi 300 cm. Mushaf ke-10 ini sama dengan mushaf Al-Qur’an Akbar I yang selesai ditulis pada tahun 1993 lalu dihadiahkan kepada Presiden Soeharto dan disimpan di Bayt Al-Qur’an Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kertas yang digunakan adalah kertas manila yang dipesan secara khusus dari Pura, produsen kertas di Kudus, Jawa Tengah.

Dalam kesempatan kunjungan ke UNSIQ, Deni Hudaeny (Kabid Pentashihan) dan Anton Zaelani (Pengawas Pentashihan) dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) diberikan izin untuk memeriksa mushaf Al-Qur’an Akbar tersebut, terutama dalam hal kesesuaiannya dengan mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia. Sebelumnya, mushaf tersebut sudah terbungkus rapih, disimpan di masjid UNSIQ, dan siap diserahkan ke Presiden. Rektor UNSIQ, Dr. KH. Mukhotob Hamzah memberikan izin kepada tim dari LPMQ agar dilakukan pemeriksaan secukupnya.

Hasilnya, mushaf Al-Qur’an Akbar ke-10 ini sudah sesuai dengan mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia, namun belum mengikuti penyesuaian rasm sebagaimana tercantum dalam surat keputusan Kepala LPMQ Nomor 141/LPMQ.01/12/2018. Bagian header di setiap halamannya hanya menyebutkan urutan juz atau nama surah. Nomor halaman terdapat pada halaman bagian bawah. Iluminasi yang digunakan pada bagian pias adalah iluminasi floral yang dikembangkan dari kata UNSIQ.  Tinta yang digunakan untuk menulis ayat adalah tinta berwarna hitam yang dipesan secara khusus, sedangkan iluminasi ditulis menggunakan warna hijau kombinasi kuning dan merah.

Menurut penulisnya, Hayatudin, mushaf Al-Qur’an Akbar ini rampung ditulis dalam waktu 7 bulan, siang dan malam. Kalau mengambil waktu siang saja, biasanya menghabiskan waktu satu tahun. Sampai saat ini, ia telah berhasil menulis sebanyak 10 mushaf, dan satu diantaranya ada yang disimpan di Kerajaan Brunei Darussalam.Hayatudin menuturkan bahwa selama menulis Al-Qur’an ia memiliki ritual khusus; pertama, ia harus dalam keadaan suci; kedua, melakukan salat sunah mutlaq dua rakaat setiap kali akan menulis; dan ketiga, berpuasa selama proses penulisan. Tiga ritual ini adalah nasihat dan wasiat langsung dari KH. Muntaha Al-Hafidz, yang semasa hidupnya akrab disapa dengan Mbah Mun, yang nampaknya memberikan dorongan tersendiri bagi penulis untuk senantiasa menulismushaf Al-Qur’an Akbar. (AZ)

Kontak

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Gedung Bayt Al-Qur`an & Museum Istiqlal
Jalan Raya TMII Pintu I Jakarta Timur 13560
Telp: (021) 8416468 - 8416466
Faks: (021) 8416468
Web: lajnah.kemenag.go.id
Email: lajnah@kemenag.go.id
© 2023 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. All Rights Reserved