Sosialisasi Mushaf Standar, LPMQ Kerjasama dengan UIN Antasari


Rasm usmani adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kajian ulumul Quran. Namun kenyataannya, di masyarakat ilmu ini kurang dikenal, sehingga menimbulkan banyak kesalahpahaman terkait penerapannya dalam penulisan mushaf Al-Quran. Di kalangan akademisi, ilmu ini juga tidak populer seperti halnya makki madani, asbabun nuzul, nasikh dan mansukh, sehingga sering dilupakan. Karena itulah, Dr. Irfan M. Nur, MA, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin berinisistif melakukan kerjasama dengan Lajnah untuk menyelenggarakan pembinaan pentashihan dalam rangka pengembangan SDM mushaf Al-Qur’an di lingkungan UIN Antasari. Acara ini diselenggarakan selama dua hari, 14-15 Nopember 2019, bertempat di Gedung Rektor UIN Antasari, Banjarmasin.
Materi yang disampaikan pada acara ini meliputi kebijakan tentang pentashihan mushaf Al-Qur’an, Mushaf Standar Indonesia, Rasm, Syakl dan Dabt, Waqaf dan Ibtidak, pedoman pentashih, dan praktik pentashihan. Acara ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari dengan narasumber H. Deni Hudaeny, Lc, MA, H. Fahrur Rozi, MA dan Dr. Zainal Arifin Mazkur, dibantu Imam Mutaqien, MA dan Mustopa M.Si. Acara ini diikuti oleh 60 orang peserta yang terdiri dari dosen di lingkungan UIN Antasari, perwakilan sejumlah ormas, utusan Kanwil, dan mahasiswa IAT Fakultas Ushuludin dan Humaniora UIN Antasari.
Melalui acara ini LPMQ mengajak civitas akademika UIN Antasari untuk bersama mengawal kebijakan dan regulasi terkait dengan penerbitan dan pencetakan mushaf Al-Qur’an dan problematika yang muncul di masyarakat terkait mushaf Al-Qur’an. (Must)

Surat Tanda Tashih dan Surat Izin Edar

Belakangan ini, kecenderungan masyarakat terutama perkotaan untuk menggunakan mushaf Al-Qur’an Madinah cukup meningkat. Alasannya beragam. Mulai dari alasan praksis seperti harganya lebih murah dan tulisannya bagus, sampai alasan ideologis seperti bahwa mushaf impor itu lebih usmani dibanding dengan mushaf yang diterbitkan di Indonesia.

Selengkapnya...

Mengenal Mushaf Koleksi Museum Masjid Agung Demak (5)

 

Mushaf 12

Ukuran mushaf 32 x 22 cm, cetakan India. Setiap kepala surah diikuti āyātuhā, kalimātuhā, ḥurūfuhā disertai angka jumlahnya. Akhir ayat ditandai dengan lingkaran hitam putih tanpa angka. Pias halaman memuat catatan qiraat. Setiap halaman manzil (per tujuh bagian Al-Qur’an) dihias dalam bentuk bingkai. Hiasan floral hitam putih terdapat di awal dan akhir mushaf. Halaman terakhir mushaf memuat doa khatam Al-Qur’an dan kolofon dalam bahasa Arab di bagian bawah. Dari catatan tersebut diketahui bahwa mushaf ini selesai ditulis pada hari Kamis (tanpa tanggal) bulan Zulhijah, tahun 1283 H (April 1867) oleh Haji Muhammad Katib Samah, dicetak di Percetakan al-Haidariyah, Bombay. (aa)

 

 

Mushaf 13

Ukuran mushaf 32 x 22,5 cm, cetakan India. Setiap kepala surah diikuti āyātuhā, kalimātuhā, ḥurūfuhā disertai angka jumlahnya. Akhir ayat ditandai dengan lingkaran hitam putih tanpa angka. Pias halaman memuat catatan qiraat. Setiap halaman manzil (per tujuh bagian Al-Qur’an) dihias floral sebagaimana di awal dan akhir mushaf. Halaman terakhir mushaf memuat doa khatam Al-Qur’an dan kolofon dalam bahasa Arab di bagian bawah. Dari catatan tersebut diketahui bahwa mushaf ini selesai ditulis pada hari Kamis (tanpa tanggal) bulan Zulhijah, tahun 1283 H (April 1867) – angka tahun kurang jelas – oleh Haji Muhammad Katib Samah, dicetak di Percetakan al-Haidariyah, Bombay. (aa)

 

 

 

MMAD 14

Ukuran mushaf 33 x 24 cm, cetakan India. Setiap kepala surah diikuti āyātuhā, kalimātuhā, ḥurūfuhā disertai angka jumlahnya. Akhir ayat ditandai dengan lingkaran hitam putih tanpa angka. Pias halaman memuat catatan qiraat. Setiap halaman manzil (per tujuh bagian Al-Qur’an) dihias floral sebagaimana di awal dan akhir mushaf. Halaman terakhir mushaf memuat doa khatam Al-Qur’an dan di bagian terakhir terdapat catatan dalam bahasa Arab yang menyatakan bahwa bahwa mushaf ini ditulis oleh Haji Muhammad Makki, dicetak di Percetakan al-Hasaniyah, Bombay, pada tahun 1300 H (1882). (aa)

Mengenal Mushaf Koleksi Museum Masjid Agung Demak (4)

 

Mushaf 8

Ukuran mushaf 32 x 21 cm, kertas Eropa (Belanda) dengan cap kertas ProPatria dan cap tandingan VG. Ayat ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk kepala surah, permulaan juz, tanda tajwid, keterangan pias, dan lingkaran akhir ayat. Sampul kulit coklat polos. Tanda juz berupa lingkaran berhias di pias halaman. Mushaf tidak lengkap, bagian akhir mushaf sebagian halaman hilang. Mushaf ini tidak beriluminasi di awal dan tengah mushaf, sedangkan di halaman Surah an-Nās di akhir mushaf dihias dengan motif sulur dan warna sederhana. (aa)

 

 

Mushaf 9

Ukuran mushaf 32 x 20 cm, kertas Eropa dengan cap kertas ProPatria. Ayat ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk kepala surah, permulaan juz, tanda tajwid, catatan pias, dan lingkaran akhir ayat. Sampul kulit coklat dengan hiasan cap tanpa warna yang ditempelkan belakangan. Iluminasi awal mushaf ditempelkan pada kulit mushaf. Iluminasi-tengah mushaf terdapat di awal Surah al-Kahf dengan motif sulur yang  cukup indah, dengan garis persegi hingga ke tepi halaman. Warna yang digunakan adalah merah, biru, hijau, kuning, dan emas untuk mempertegas garis. Iluminasi-tengah mushaf terdapat di awal Surah al-Kahf. Tanda juz berupa setengah lingkaran di pias halaman sebelah kanan dan kiri. Kondisi mushaf tidak lengkap, bagian awal dan akhir mushaf hilang. (aa)

 

 

Mushaf 10

Ukuran mushaf 32 x 24 cm, kertas dluwang. Ayat ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk kepala surah, permulaan juz, keterangan pias, dan lingkaran akhir ayat. Sampul kulit coklat polos. Mushaf tidak lengkap, bagian awal dan akhir telah hilang. Hiasan tengah mushaf terdapat di awal Surah al-Kahf berupa perpaduan garis segi empat dan segitiga hitam putih. Sudut luar-bawah halaman tampak sedikit hancur, merupakan tanda bahwa mushaf ini dahulu sering digunakan. (aa)

 

 

Mushaf 11

Ukuran mushaf 33,5 x 20,5 cm, kertas Eropa, cap kertas ProPatria. Ayat ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk kepala surah, permulaan juz, keterangan pias, dan lingkaran akhir ayat. Sampul kulit coklat tipis. Iluminasi terdapat di awal dan akhir mushaf, berupa garis persegi dengan bentuk semacam segitiga di bagian atas, samping-luar, dan bawah. Warna yang digunakan terutama merah dan kuning dengan motif sulur. (aa)

Mengenal Mushaf Koleksi Museum Masjid Agung Demak (3)

 

Mushaf 5

Ukuran mushaf 29 x 23 cm, kertas Eropa (Inggris) agak tebal, cap kertas J Whatman 1803. Ayat ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk kepala surah, permulaan juz, tanda tajwid, catatan pias, dan lingkaran akhir ayat. Mushaf ini merupakan ‘mushaf pojok’ yang setiap halaman selesai dengan akhir ayat. Sampul kulit, dengan hiasan cap emas. Iluminasi terdapat di awal, tengah, dan akhir mushaf yang ketiganya berbeda corak. Struktur iluminasi awal mushaf seperti gaya Bugis geometris dengan setengah lingkaran di bagian atas dan bawah, dan di samping-luar tengah terdapat segitiga, serta di bagian atas dan bawah terdapat tumpukan tiga tengah lingkaran. Motif yang digunakan adalah sulur dan geometris dengan warna hijau, merah, coklat, dan emas. Iluminasi tengah mushaf terdapat di awal Surah al-Kahf. Kondisi naskah cukup baik, lengkap 30 juz. (aa)

Selengkapnya...

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4