Mushaf ini merupakan warisan keluarga Kesultanan Sumbawa, disimpan di Balla Kuning, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Disalin oleh Abdurrahman bin al-marhum Musa as-Sumbawi, selesai disalin pada Jumat, Sya’ban 1280 H (Januari-Februari 1864). Kertas Eropa, 15 baris tulisan per halaman. Mushaf ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk menulis kepala surah, sebagian qiraat, niṣf, rubu‘, ṡumun, rukuk, dan tanda tajwid. Teks berpola ‘ayat pojok’. Mushaf tidak lengkap lagi, sebagian telah hilang. Kondisi naskah yang tersisa masih cukup baik.

Mushaf ini merupakan warisan Keslutanan Sumbawa, disimpan di Balla Kuning, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Disalin oleh Muhammad bin Abdullah al-Jawi al-Bugisi pada 28 Zulqa’dah 1199 H (2 Oktober 1785). Ukuran 35 x 22 cm, kertas Eropa, 15 baris tulisan per halaman. Mushaf ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk menulis kepala surah, tanda tajwid, catatan hadis keutamaan surah, dan ‘ain ruku’. Sampul aslinya adalah kulit dengan hiasan cap yang disepuh tinta emas. Sekitar tahun 2013 mushaf lengkap 30 juz ini dikonservasi di Perpustakaan Nasional RI. Semua halaman dilaminasi, dan naskah dijilid ulang dengan lapisan karton.

'Mushaf La Nontogama' merupakan salah satu di antara dua mushaf pusaka Kesultanan Bima. Salah satu mushaf yang terbilang tua di Nusantara ini koleksi Museum Samparaja, Bima, diperkirakan disalin pada akhir abad ke-18. Ukuran 40 x 25,5 cm, bidang teks 27 x 14 cm, 15 baris per halaman; kertas Eropa dengan cap D&C Blauw, J Honig & Zoonen

'Mushaf La Lino' diperkirakan disalin pada sekitar tahun 1820. Ukuran 35 x 22 cm, bidang teks 15 x 12,5 cm, 15 baris tulisan per halaman. Kertas buatan Inggris dengan cap John Hayes 1815. Mushaf ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk menulis kepala surah, tanda hiasan, tanda rukuk, dan tanda tajwid. Tinta emas digunakan untuk menghias halaman iluminasi, medalion di pias halaman, dan kaligrafi kepala surah. Mushaf ini telah dilaminasi dan dijilid ulang dengan kulit karton merah. Lengkap 30 juz; teks berpola ‘ayat pojok’. Kondisi naskah cukup rapuh, karena sebagian kertas rusak dimakan tinta yang mengandung zat besi.

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam, berfungsi sebagai petunjuk dan pembeda bagi manusia. Sebagai petunjuk, Al-Qur’an berfungsi memberikan arahan dan tuntunan kepada manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia dan akhirat. Sebagai pembeda, Al-Qur’an diharapkan bisa menjadi pedoman dan acuan dalam membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Oleh sebab itu, untuk bisa melaksanakan dua fungsi tersebut, Al-Qur’an selain dibaca juga harus dipahami kandungan isinya. Dengan mengetahui, memahami, dan meyakini kebenaran isi kandungan Al-Qur’an, maka umat Islam bisa menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari hari.